Kamis, 03 Desember 2009

Menemukan arti diri (Nilai, rasa, cinta, dan Jodoh)


“Lalu, di manakah jodoh itu?” Tanyaku
“ Ada mungkin di dekatmu, mungkin pula seseorang masa lalu, mungkin juga orang yang tak kau temui sebelumnya”. Jawabmu…
Jika itu merupakan pilihan, aku memilih seseorang yang baru dan ada di dekatku saat ini. Tapi siapa? Saat ini kedekatan bukan merupakan patokan dalam merasakan rasa yang sama. Adakalanya sebuah kedekatan hanya sebatas titik dimana kita hanya bisa menilai individu atas apa yang dilihat—dalam hal ini belum dengan perasaan. Untuk itu, aku pilih dengan pertimbangan yang sama sekali jelas bukan ada dalam bayangan yang terlewatkan sebelumnya. Biar semuanya berawal dengan sebuah nuansa hati yang baru, dan kita bisa meraba alur dari semua cerita ini bermuara.
“…ketika kau telah bisa temukan kesejatian dirimu kau akan sadari siapa yang tepat bagimu”. Itu katamu…
Kawan, aku dididik untuk menjadi seorang individulis. Seorang yang selalu harus percaya diri dengan segala kemampuan yang ada. Tentunya ada kalanya aku pun ada diposisi lemah, termasuk dalam kausal cinta yang bermuara pada tema jodoh itu. Ketika tanya harus menjadi jawaban, itupun belum sepenuhnya aku katakan benar. Karena setiap yang benar tersebut selalu bersifat subjektif, dan dari sudut sebelah mana kita menerkanya.
Kesejatian diri bukan mutlak diri kita sebagai individu yang berhak menilai. Walaupun hal tersebut merupakan hak asasi setiap individu. Dan kau pun rasanya tidak setuju dengan apa yang diungkapkan Satre tentang konsep eksistensinya, bahwa kita ada dan berada di dunia ini dengan sendirinya. Bukankah eksistensi kita juga dinilai oleh orang lain, yang menilai dan menjadi patron penilai dalam menentukan kesejatian diri kita sebagai individu.
Rasanya kita terlalu egois jika harus menentukan kesejatian diri itu hanya bersandar pada satu sudut pandang diri kita semata. Oleh karena itu, kita butuh seseorang yang bisa memahami, mengerti, dan cerdas menempatkan posisinya sebagai patner dalam menentukan arah dari semua cerita tentang cinta ini. Mungkin dialah jodoh yang ada dan tepat untuk kita.

: Jawaban untuk sahabatku ANP.
"Seperti inilah jawabanku, teman". ^^

Jumat, 20 November 2009

Tentang Pramoedya 1


•Antinomi

Wahai huruf ... alangkah akan tinggi ucapan terima kasihku, bilalah kamu menjadi buku terbuka, bagi manusia yang membacanya. (Pramoedya Ananta Toer)

Kata di atas merupakan sepenggal tulisan yang ditulis oleh Pramoedya dalam prolog sebuah bukunya Menggelinding 1. Bukan tentang tulisan tersebut yang ingin saya bahas dalam tulisan ini, namun ada sisi yang menarik ketika kita membicarakan Pramoedya sebagai sastrawan dan di lain pihak kita membicarakan muatan filsafat yang ada dalam setiap kata yang tertuang pada karya-karyanya—dan boleh kiranya saya menyebut Pram sebagai seorang filosof. Tentunya secara sosiologis, seorang sastrawan merupakan bagian dari masyarakatnya (suatu), ada penekanan pada pada sisipan “nya” yang saya kira bukan hanya sebagai partikel pengganti untuk kata jamak, namun saya lebih memaknainya sebagai penunjuk kepada hal yang dituju—yang dalam hal ini masyarakat tempat Pram berkelindan. Masyarakat sebagai sebuah komuni merupakan kumpulan dari berbagai ide, ideologi, agama, perasaan, persamaan, dan perbedaan, yang satu sama lain saling berkausal dalam sebuah konvensi yang dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab—seharusnya. Sebagai seorang sastrawan tentunya kita akan mengatakan bahwa muatan imajinasi akan lebih kental dalam sebuah makna. Namun jika kita berbicara Pram sebagai seorang filosof, di mana saya dapat membuktikan bahwa memang Pram sebagai filosof, setidaknya dalam karyanya.
Terdapat tiga kata yang menjadi jurang pemisah yang sering kita ungkap dalam membicarakan sastra dan filsafat; data, fakta, fiksi. Dengan mudah ketiga kata tersebut dapat kita pilah ketika mengatakan data digunakan untuk ilmu-ilmu empiris, fakta untuk sejarah, dan fiksi untuk sastra. Perlu kiranya saya bahas secara etimologis sederhana berkaitan dengan ketiga kata tersebut. Data adalah istilah Latin yang persis sama arti dan bentuknya dengan kata given dalam bahasa Inggris. Dare dalam bahasa Latin adalah to give dalam bahasa Inggris dalam bentuk infinitif. Sedangkan data/given adalah bentuk past participle. Dengan demikian, data berarti suatu yang diberikan. Di sini akan menyangkut kepada prasangka positivisme, yang menyatakan sesuatu dikatakan data jika kenyataan itu dianggap diberikan oleh alam, dan dimaknai oleh inderawi manusia. Hal tersebut akan merujuk kepada apa yang dinamakan veracitas naturae (the truthfulness of nature), atau kejujuran alam. Sebaliknya, Descartes dengan asas evedensinya berpegang pada asas veracitas Dei (the truthfulness of God). Dengan demikian, kedua hal tersebut akan berujung kepada apa yang disebut dengan knowledge (pengetahuan), bahwa pengetahuan tidak dimulai dengan data, melainkan hanya bisa dimulai dengan teori, sedangkan data berfungsi untuk menguji kebenaran teori.
Istilah fakta berasal dari bahasa Latin factum (bentuk past participle dari kata kerja facere). Dalam bahasa Inggris ekuivalennya adalah: done sebagai bentuk past participle dari to do. Istilah factum tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris, yang kemudian mengambil alih kata Latin tersebut dan mengubahnya menjadi fact. Disini konsep fakta berasal dari alam pemikiran yang berhubungan erat dengan behaviorisme.
Kenyataan-kenyataan dalam alam seakan-akan diberikan oleh alam dan karena itu disebut data. Sedangkan dalam sejarah kenyataan-kenyataan itu dianggap dibuat dan dilakukan oleh manusia melalui tindakan-tindakannya dan karena itu menjadi fakta. Fakta adalah hasil tindakan manusia sebagai homo agens atau mahluk yang bertindak dan berbuat. Baik data atau fakta selalu berhubungan dengan indera manusia. Data diterima oleh indera manusia sedangkan fakta dilakukan melalui indera manusia.

to be continue...

Selasa, 17 November 2009

Tentang Kebudayaan*

Ada banyak cara untuk mengungkapkan apa itu kebudayaan. Berawal dari definisi sederhana, kebudayaan dapat ditelusur dari segi etimologis yang berasal dari kata Sansekerta budhayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Pengertian di atas sesuai dengan perspektif yang dikemukakan oleh kaum strukturalisme yang memandang bahwa kebudayaan sebagai produk atau hasil dari aktivitas nalar manusia, sumber kebudayaan tak lain adalah nalar manusia atau human mind. Kebudayaan dalam terminologi di atas masih terlalu sempit, jika boleh dikatakan masih terbatas dalam kaitannya dengan berbagai unsur yang membangun sebuah kebudayaan. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah definisi seperti apa yang tepat untuk menjawab apa itu kebudayaan.

Terdapat banyak definisi tentang kebudayaan yang dimunculkan oleh berbagai pakar yang mengkaji tentang budaya dan kebudayaan tersebut. Dalam tulisan ini penulis memaparkan beberapa definisi tentang kebudayaan sebagai landasan teoretis dari beberapa pendekatan dan beberapa pakar yang mengungkapkan kebudayaan. menurut Canadian Commission for Unesco, kebudayaan dinyatakan sebagai: A dynamic value system of learned elements, with assumptions, conventions, beliefs and rules permitting members of a group to relate to each other and the world, to communicate and to develop their creative potential. Terdapat beberapa elemen penting dalam pengertian di atas, bahwa kebudayaan adalah sebuah nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan aturan-aturan yang memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain. Pengertian kebudayaan ini termasuk dalam pengertian kebudayaan sebagai sistem nilai, yaitu kebudayaan sebagai sistem normatif yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

Menurut Suparlan (1986) kebudayaan ialah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh masyarakat oleh manusia sebagai mahluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat, model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya. Dua pengertian di atas merujuk kepada pandangan kaum evolusionistik yang memberikan pengertian kebudayaan sebagai bentuk cipta, rasa, dan karsa atau kelakuan dan hasil kelakuan manusia. Kebudayaan mengandung tiga hal utama, yaitu sebagai sistem budaya, aktivitas, dan kebudayaan yang berwujud benda-benda (fisik).

Dengan demikian, dari berbagai definisi tentang kebudayaan di atas, dapat direduksi sebuah pengertian sederhana, bahwa kebudayaan merupakan bentuk hasil aktivitas nalar manusia yang terwujud dalam beberapa aspek yang meliputi sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan sebagai watak khas dari setiap masyarakat.

Wujud Kebudayaan

Berdasarkan definisi tentang kebudayaan di atas, dapat kita temukan bahwa terdapat sebuah dimensi wujud budaya. Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan meliputi tiga wujud, yang antara lain:

  1. Wujud ide

Wujud tersebut menunjukkan wujud ide dari kebudayaan, yang sifatnya abstrak. Dalam wujud ide ini terdapat gagasan, nilai, dan tata kelakuan, yang fungsinya ada untuk mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai bentuk kesopanan. Kebudayaan ideal ini sering pula disebut sebagai sistem budaya yang merupakan komponen kebudayaan yang berisi pikiran, gagasan, konsep, serta keyakinan, yang dalam bahasa Indonesia lazim kita sebut sebagai adat istiadat.

  1. Wujud aktivitas

Merupakan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud tersebut disebut pula sebagai sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia. Sistem sosial ini merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret, dalam bentuk perilaku dan bahasa.

  1. Wujud fisik

Wujud ini dinamakan pula sebagai kebudayaan fisik, yang merupakan hasil fisik aktivitas perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat. Sifatnya konkret dan berupa benda-benda.

Subtansi utama Kebudayaan

Terdapat beberapa subtansi utama dalam pembentukan sebuah kebudayaan. Subtansi utama kebudayaan merupakan wujud abstrak dari segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan di masyarakat yang member jiwa kepada masyarakat itu sendiri, baik dalam bentuk atau berupa sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi. Selain itu, terpadat beberapa unsur yang membentuk kebudayaan. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh B. Malinowski, kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsur universal, yaitu:

  1. Bahasa
  2. Sistem teknologi
  3. Sistem mata pencaharian
  4. Organisasi sosial
  5. Sistem pengetahuan
  6. Religi/kepercayaan
  7. Kesenian

Konklusi

Sebagai kesimpulan, perlu untuk kita simak pernyataan yang dikemukakan oleh Herkovits dalam bukunya yang berjudul Man and His Work tentang teori kebudayaan, yaitu:

  1. Kebudayaan dapat dipelajari
  2. Kebudayaan berasal atau bersumber dari segi biologis, lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi manusia.
  3. Kebudayaan mempunyai struktur
  4. Kebudayaan bersifat dinamis
  5. Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat dianalisis dengan metode ilmiah
  6. Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang individu untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti bagi kesan kreatifnya.

Kebudayaan dalam kerangka ilmu sosial budaya dasar adalah berkaitan dengan penciptaan, penertiban, dan pengolahan nilai-nilai kemanusiaan.

Referensi

Kaflan, David. 1999. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soelaeman, Munandar. 2001. Ilmu Budaya dasar: Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.

Sumaatmadja, Nursyid. 1998. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup. Bandung: CV. Alfabeta.


*Bahan ajar Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar, pada Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI)

Jumat, 16 Oktober 2009

Catatan Resah

...
kau buat aku bertanya

kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku...

Meresapi lirik lagu Sherina di atas membuat suasana hati tambah tak menentu. Wah, tentu ada yang salah dengan nuansa hati yang ada. Setidaknya, mungkin seperti itulah jiwa melankolisku yang sedang bergejolak.
Awalnya aku percaya akan semua cerita tentang ada. Ya, ada cinta yang tumbuh selaksa mawar yang sedang mekar. Namun, lagi aku dirundung gelisah setelah melihat kenyataan yang ada tak sama dengan visi dalam menilai rasa. Ah, rasanya terlalu berlebihan semua cerita ini.

...jangan paksa aku mencari yang lebih baik, karena senyummu menyadarkanku...

Belum sempat senyuman itu hadir nyata dalam visualisasi mata. Belum sempat pula tangan ini berjabat dalam hangat nuansa. Kini, kenyataannya telah usang seiring kata tentang resah.
Ya, Aku baru bisa menikmati dari sini...lewat facebook. Dan hanya indah yang terasa hampa dalam senyuman tentang kejujuran rasa.

Akhirnya;
"Jujur, Aku mengagumimu. Bukan karena cantik dirimu, bukan pula karena senyumanmu. Tapi yang ada di hati ini hanya merindumu dan tentunya cinta". Biar saja begitu adanya.

Selasa, 15 September 2009

Rahasia

1
Bukan sekedar ragu dalam diri yang haus akan tanya
namun, apakah setiap tanya harus ada jawab?

2
Akankah kata 'akan' yang akan menjawab
semua tanya dalam diri yang haus akan jawab...

3
Satu, dua, dan tiga
ditambah
satu, satu, dua, tiga, lima, delapan, tiga belas...
(enigmatik?)

Rabu, 02 September 2009

Cake (ode untuk teman)

"Besok, cicipi kue ku lagi ya, kawan."
Seperti itulah permintaannya pada malam tadi. Entah kenapa dirinya hanya mau dan percaya bahwa kue hasil karyanya harus aku coba--dan memang kuenya enak.
Entah untuk keberapakalinya kue buatannya aku cicipi, tentunya dalam nuansa dan suasana yang seperti biasanya; ada tema, ada diskusi, ada tanya, ada jawab, ada-ada yang lainnya, yang menjadi muara dalam pertemuan dengan dirinya selalu.
"Wah, resep baru lagi neh?" Tanyaku sesaat.
"Kenapa? Ga enak ya?" Jawabnya. Saat itu ada murung dalam mukanya.
"Bukan gitu, cuma terlalu banyak tape-nya, kawan."
Ya, saat itu dirinya mencoba membuat kue dari bahan tape. Tapi pada dasarnya enak dan selalu yang aku inginkan adalah suasana itu, yang tidak aku temukan dengan yang lainnya.

Bukan hanya tentang kue yang ingin aku ceritakan dalam cerita ini, namun tentang sahabat yang selalu ada dalam setiap cerita tentangnya;
"Kawan, bukan hanya merajuk ingin saja, dalam cerita tentang indah persahabatan ini ada begitu banyak kagum yang sebenarnya ingin kuceritakan. Namun, kata/bahasaku tidak cukup untuk menerjemahkan ingin tersebut menjadi makna kata. Dirimu pun tahu, tanpa aku harus berkata pun, tentu tahu sebetulnya apa yang ingin aku ucapkan. Haha...begitulah aku yang menurutmu melankolis, sulit dimengerti, dan serba susah untuk menunjukkan laku sebagai sebuah representasi diri. Sebegitu dekatkah kita? Sebegitu mengenalkah kita? Ah...rasanya sikap tak adil ada padaku, yang tak bisa selugas, secermat, se-sederhana dirimu dalam ungkap kagum atas makna. Biarkan saja semua begini adanya, dengan sikap rendah hati aku ucapkan salute untukmu, kawan."
Masih ingat dalam pertemuan terakhir denganmu, ada semangat yang sama ketika kita beranjak pada fase selanjutnya dalam pencarian tentang manfaat diri;
"Kelak, suatu hari nanti kita ketemu lagi di tempat ini, dengan kedudukan dan nuansa yang baru. Kita harus bisa lebih berguna dari hari ini, untuk esok, lusa, dan seterusnya." Kata-kata yang masih kuingat darinya, ketika pertemuan harus dibatasi oleh ruang waktu dan jarak yang terlalu menganga. Satu yang pasti aku rindukan dalam indahnya dirimu;
"Aku rindukan setiap detik pertemuan denganmu; tentang nuansa, tentang suasana, tentang tanya, dan tentang jawab yang selalu ada, dan tentunya Aku rindu mencicipi kue buatanmu lagi."


:
Lukisan kata sederhana dariku untuk kawan ANP; "Kawan, kamulah juaranya. Salute!"

Selasa, 01 September 2009

SERENADE

Dalam rintik hujan ini, aku terus mencari keberadaanmu. Namun, aku tak menemukanmu. Entah untuk keberapa kalinya aku terus terlena dalam pencarian tentangmu. Aku hanya bisa menunggumu dalam balik ruang yang kosong ini. Setiap tetesan air hujan yang jatuh, selalu mengingatkanku akan detakan terakhir itu. Ya, aku hampir gila karena mengingatmu.

Ruangan ini kosong dan kotor. Entah mengapa aku berada di ruang yang pengap ini. Aku baru tersadar setelah aku tahu akan keberadaanku. Gelap, pengap, bau, dan segala macam yang mengganggu aku rasakan ketika hendak sadar terbangun dari mimpiku. Aku bergerak kesana kemari, dan aku mencari sumber udara untuk menghilangkan kepengapan suasana. Aku mencari sinar untuk menerangi setiap gelap dalam pelupuk mataku. Namun, semua jadi tak ada bagiku. Kenapa? Aku sempat bertanya sesaat akan nuansa baru yang tak mengenakan ini.

Selang beberapa hari, aku mulai terbiasa dengan kepenatan suasana ini. Aku belum bisa memaknai arti baru dalam nuansa yang sama sekali tak aku kenali. Kesunyian ini aku rasakan bersama suara jangkrik yang selalu menemani dalam heningnya nuansa.

Gemericik hujan mulai menemani kesunyianku. Bunyi rintikan itu membuatku sedikit mengingat siapa jati diriku. Aku terus maknai setiap irama yang hadir sebagai sebuah simfoni dalam dingin dan sunyinya suasana. Entah hari ini malam, siang, atau pagi. Yang ada bagiku saat ini hanya kegelapan yang menyeliputi seluruh pandanganku.

Tik, tik, tik, tik...

“Ya, bunyi itu!”

Tik, tik, tik, tik...

“Bunyi itu!”

Angin juga berhembus dengan menawarkan aura dingin yang membuat setiap bulu kudukku berdiri. Ah, rasanya aku bukan takut pada hembusan ini.

Tik, tik, tik, tik...

“Aghhhhhhhhhh.............anjing! kenapa aku tak bisa mengingat suara ini!”

Tik, tik, tik, tik...

Terlepas dari sadar atau tidak, aku rasakan pening ketika harus mendengar suara rintik hujan itu. Memori yang ada belum mau bercerita tentang arti yang bisa kuingat dari setiap suara alam yang menggema. Hujan tak jua reda. Aku terus menggigil kedinginan dan tersiksa dengan semakin bertambahnya kuantitas hujan yang ada.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik, tik, tik, tik, tik, tik, tik....

“Arghhhhhhhhhhhhhhhhh...anjing! Aku tak tahu!”

Belaianmu sangat membuatku nyaman. Pelukan sayangmu menghangatkan tubuhku. Aku nikmati setiap rasa sayang yang kamu beri. Wujud cinta yang tulus darimu, telah membuatku begitu berarti. Aku sadari, hidup ini nyata dan harus diperjuangkan. Kamu juga yang selalu mengingatkanku untuk selalu memegang prinsip daripada harus tunduk dengan sebuah kebutuhan yang meminta. Kamu pula yang selalu mengingatkanku akan konsekuensi dari ideologi yang aku pilih. Kamu yang selalu mengingatkan aku;

“Hidup ini pilihan, Mas. Ya, Mas sendiri yang menentukan. Ikhtiar yang terbaik adalah bergerak. Jadi, Mas, musti bergerak. Begitupun ideologi, itu pilihan juga. Aku sayang kamu sebagai pribadi, sebagai individu dengan tanpa pretensi apa-apa. Ingat itu baik-baik ya, Mas.”

Jalinan cinta ini indah. Dengan hadirnya dirimu, aku semakin tahu akan kekuatan cinta. Aku yang seorang individualis, selalu bergelut dengan waktuku saja. Aku pikir, cinta hanya penghambat dalam laju revolusi. Namun, lagi-lagi kamu yang selalu mengingatkanku. Dan rasanya aku tergila untuk mencintaimu. Tak tahu aku bila tanpa cinta darimu.

Aku coba bergerak lagi. Aku masih mendengar rintikan hujan yang tadi. Rasanya hujan tak jua berhenti, barang sebentar saja. Terlepas dari ingatanku, aku kembali memaknai setiap bunyi rintik hujan ini. Namun!

Dor, dor, dor, dor...

“Aghhhhhhhhhhhhhh...anjing! Mengapa ini?!”

Dor, dor, dor, dor...

“Suara apa ini?!”


Sesaat irama rintik hujan itu berubah menjadi raungan bunyi senapan yang memekakkan gendang telingaku. Aku berlindung dari setiap serangan itu. Aku tutup telinga ini, aku tutup mata ini, aku berlari kesetiap sudut. Aku terus berlari, aku terus berlari, aku terus berlari... dan akhirnya aku menemukan cahaya dari sudut ruangan ini;

Aku hanya bisa menangis, saat kamu harus tergolek lemah karena dentuman peluru. Aparat itu terus menembakmu dengan sangat kejinya. Aku hanya bisa melihatmu mati dari kejauhan saja. Kamu sempat berkata—yang kulihat dalam matamu—kepadaku;

“Kamu harus tetap hidup, Mas. Jika mati. Matilah secara terhormat di antara teman seperjuanganmu. Ingat baik-baik pesanku. Jadilah individu yang unggul, jauhkan diri dari segala pretensi. Kamu harus memilih prinsip daripada harus tunduk terhadap segala kebutuhan. Ini mungkin akhir cerita cinta kita. Namun, aku akan selalu bersimfoni dalam indahnya nuansa yang baru. Aku menunggu hadirnya dirimu lagi, Mas.”

Hujan masih saja deras. Namun, suara rintik hujan ini telah kembali menjadi irama yang seharusnya.

Tik, tik, tik...

Aku menemukan kembali sinar dalam pelupuk mataku. Mungkin sebentar lagi hujan akan reda. Kelak aku bisa melihat pelangi yang indah, dan aku bisa menikmati setiap indah panorama dalam pancaran alam yang menerangi mataku kini.

Aku telah mengetahui keberadaamu. Aku juga telah relakan kepergianmu. Aku, aku...—sejenak aku menangis—tak tahu lagi harus ke mana melangkah. Memang aku telah menemukan kembali sinar ini. Namun, tanpamu...

“Aku tak bisa, Sekar.”

kesunyian Bumi, Agustus...

Senin, 31 Agustus 2009

Seharusnya...



“Aku hanya korban dari keadaan frustasi...”

Itulah kata yang pertamakali aku temukan dalam kumpulan tulisannya. Entah itu hanya sebuah tulisan kata hati, atau memang sebuah kata yang tulus dari dalam hati. Memang hanya tanda tanya yang selalu melekat pada dirinya. Dan seolah hanya keraguan yang selalu terlintas pada raut wajahnya. Sebuah keajaiban yang selama ini luput dari rekaanku, ternyata dirinya seorang penulis yang berbakat. Masih tanda tanya tentunya, karena semua itu apa benar memang bakat atau hanya sebuah ungkapan kebisuan belaka. Seandainya aku tahu dari dulu.

Aku lupa akan segala keresahannya selama ini, dan memang aku tak pernah tahu akan rasa frustasi yang membelenggunya. Sehingga akhirnya tiba waktu untuk kembali pada-Nya. Ya, padamu Tuhan.

Serasa cepat semua itu berlalu, sebelum aku tahu akan semua misteri ragu itu. Aku titipkan segala rindu ini bersama rincik bunga kamboja yang mengantarkan perjalanan terakhirnya.

“Bodoh!”

Ya, aku memang bodoh. Aku terlalu sibuk dengan pergulatan waktuku saja. Sehingga lupa akan kehadirannya. Semua tulisan-tulisannya aku coba baca dan renungkan sebagai obat duka akan kerinduaan yang mendalam ini.

Dalam sebuah tulisannya yang diberi judul Tak sanggup, aku merasa terenyuh;

“Mestinya aku menyadari diriku telah kau miliki, namun tetap seutuhnya aku adalah aku. Dalam rona bulan yang samar. Aku selalu merintih akan rasa tanya yang tak tentu. Mungkin hanya aku yang tahu. Apa Anda, atau siapa saja ada yang peduli? Ah… Aku seperti pengemis saja, yang minta belas kasihan. Aku hanya korban dari keadaan frustasi. Diri ini lelah, seiring kata tentang gundah. Adakah kau mengerti tentang kesepianku ini. Aku masih saja tak sanggup dengan misteri tentang ada. Tolong koreksi jika salah.”

Entah memang hanya sebuah karangan belaka, atau memang benar sebuah kata hati. Lagi-lagi aku temukan kata-kata itu. “Aku hanya korban dari keadaan frustasi…” Bungaku, adakah semua ini hanya sebuah replika belaka. Tentang ragu itu sungguh aku tak tahu, dan tak menentu. Hanya dirimu yang tahu.

Aku coba renungkan segala kata representasi hatinya. Kali ini akan selalu aku dengar segala kegundahanmu, tentunya dalam dua dimensi yang berbeda. Tapi kini aku tahu akan keberadaanmu. Semoga terasa syahdu dalam randu.

Mengapa dirinya tak ingin ungkap segala tentang hal itu padaku. Aku merasa tercampakan, apakah aku kurang suci untuk sebuah pengakuan resah. Memang tak salah bila berujung duka dan penyesalan. Namun hatiku masih akan tetap membuka dan selalu terbuka untukmu kelak, bila kita dipertemukan kembali.

Aku kembali membaca tulisannya lagi;

“Tak ingin sebenarnya mata ini aku tutup, karena aku takut akan gelap. Tapi pada saat ini, justru terang yang sangat menyakitiku. Seolah gelap dalam terang, dan ada cahaya terang dalam kegelapan. Ya, itulah rasanya tentang sebuah rasa takut. Hingga aku tersadar dari dunia maya, dan ternyata aku sudah berada di alam yang sama sekali berbeda. Terlepas dari jeritan panjangku, aku coba buka mataku. Ini nyata, ini nyata, ini nyata. Ah…ini mimpi, ini hanya sebuah mimpi. Ayo bangunkan aku! Bangunkan aku! Sentuh aku, dorong aku hingga terbangun lagi.”

Aku coba rasakan betapa beratnya dirimu yang harus bergulat dengan rasa sakit itu. Jangan kau kira aku tak menangis saat membaca tulisanmu ini.

Sungguh aku rasakan semua kepedihanmu. Seiring gemericik hujan yang menemani rasa tangisku, aku coba menikmati kepedihan dukamu.

Sungguh hanya aku yang bodoh. Yang tak bisa benar-benar mendalami semua kepedihanmu. Seandainya kau ada saat ini, tentu akan kupinjamkan bahuku untukmu. Bunga aku menangis. Sungguh ini sebuah kejujuran.

Aku yakin akan bisa menemanimu kelak, semoga itu tak lama. Aku rindu. Dan rindu itu terus saja ada semenjak kepergianmu. Untuk mendulang lagi masa itu, aku butuh waktu Bunga. Aku belum ingin menggantikan keberadaan dirimu dilubuk hatiku, walau Lastri sungguh menyentuh untuk kujamah dalam cinta. Apa benar kau setuju.

Memang sebuah dilema dalam dua rasa yang berbeda. Satu yang pergi dan satu yang menyibak hati. Memang kalian adalah objek rasa, tumpuan segala asa.

“Lastri apakah kau mau pulang denganku?”

“Tentu saja Ren, kenapa tidak.”

Kami berdua berjalan dalam bayangan Bunga yang tersenyum.

Dalam hatiku:

“Bunga jika semua ini inginmu, aku coba jalani rasa ini walau tak tentu. Tentang Lastri, biarlah waktu yang memberinya sebuah pengertian ketulusan cinta. Untuk saat ini tolong kau pergi jauh dari pandanganku. Biar semua konsentrasiku tetap terfokus untuk Lastri. Doa ku selalu bersamamu, Bunga.”

“Ren, Ren, Ren… kenapa?”

Semua itu buyar.

“Tidak ada apa-apa Las.”

Aku bohong pada Lastri.

Apakah benar semua ini? Haruskah kuduakan cinta Lastri oleh bayanganmu Bunga.

“Ah… ada yang salah semua ini.”

Aku kembali membaca pesan terakhir yang dirinya tulis dalam kumpulan tulisannya.

“Ren,aku tak tahu harus merasa apa. Entah senang, cemburu, bahkan mungkin tak tentu. Tapi semua itu benar. Lastri adalah sungguh dirimu, aku sudah cukup paham tentang segala hal cintamu. untuk yang satu ini tolong seharusnya kamu bisa mengerti lebih. Dan bisa lebih mengerti tentang inginku. Untuk kebahagiaanmu dan tentunya kebaikanku juga. Ren, maaf bila aku egois, karena pada dasarnya aku memang cinta. Semoga kau bahagia dengan Lastri.”

Bunga sungguh aku makin tak mengerti akan semua tentangmu. Dirimu memang misteri bagiku, dan tak akan pernah terpecahkan dalam sisa umur hidupku. Bunga aku coba jalani semua tentang pintamu. Tentang kepedihan, luka, rasa sakit, dan kepergianmu, jujur aku juga rasakan. Semoga kau tak frustasi lagi di alam sana.

Apakah benar sebuah pemaksaan nurani? Apakah benar sebuah prasangka yang tersembunyi? Maafkan aku Lastri. Semoga semua itu menjadi pembenaran tentang sebuah janji. Biarlah waktu yang memberitahukan segala tentangnya.

Hari ini ada yang lain dalam diri Lastri.

“Lastri, tunggu aku.”

“Hai, kenapa Ren. Ada apa?”

“Nanti bisa kita pulang sama-sama?”

“Ya sudah, nanti tunggu aku ya Ren.”

“Ya.”

Kami berdua berjanji untuk saling menunggu. Dan yang pasti untuk saling membuka diri tentang rasa tabu masing-masing diri.

“Lastri semoga kelak kau bisa mengerti.”


David, Sukabumi…





ps: Karya klasik, ketika pertama kali aku mulai menulis tentang hati. "Seharusnya kamu tahu rasa hatiku tentang cinta ini."

Rabu, 19 Agustus 2009

Melukis Hati

Keliru, jika kau katakan pagi ini mendung. Pagi hari ini cerah adanya. Yang mendung adalah rasa hatiku. Ya, hatiku sedang mendung. Merana karena dirimu. Ah… sesungguhnya bukan karena dirimu. Akan tetapi, karena diriku yang tidak bisa memberi apa yang menjadi harap.

Sungguh aku tak bisa.

“Jangan kau paksa aku untuk menulis cinta.”

“Tapi itu yang aku ingin saat ini.”

“Lalu harus bagaimana aku menuliskannya, Han?”

Hani memintaku untuk menulis. Ya, menulis tentang perasaanku kepadanya. Dia ingin mereka bahasa cintaku. Mungkin adanya ragu dalam hati, yang menjadi alasan tentang satu pinta itu. Aku tak bisa jika harus menulis cinta.

Sebentar tadi langit cerah. Ah… tak lama kemudian langit telah menjadi mendung kembali. Mendung di langit ini mungkin sebuah sasmita. Sebuah tanda yang meminta untuk segera bersiap akan datangnya hujan. Adakalanya hujan datang tepat saat aku tak menginginkannya. Mungkin juga, hujan bisa menjadi inspirasiku untuk menulis cinta. Ah…hujan datang jua. Tapi tetap aku tak bisa menuliskannya.

“Ren, aku kecewa. Aku tahu kamu selalu romantis dengan kata terhadap orang lain. Lalu, kenapa tidak denganku? Aku hanya ingin kamu bisa menuliskanku cinta!”

Hani kembali meminta apa yang menjadi harap.

Baiklah, Hani. Aku lukiskan tentang perasaan, bukan menulis tentang cinta. Akan tetapi, Melukis hati. Seperti ini kiranya:

“Rasa di hati tak bisa aku ceritakan kepadamu. Tentu ada kalanya aplikasi perasaan tak harus tervisualisasikan dalam nuansa kata. Akan tetapi, makna selalu ada sebagai representasi hati. Jangan kau pinta aku untuk menuliskannya. Karena, pada dasarnya bahasa manusia (kata) tak akan cukup untuk menuliskannya. Cukup akan aku lukiskan perasaan hatiku saja. Lalu dirimu akan bertanya. Seperti apa? Mula-mula aku akan katakan lewat bahasa, lalu akan aku representasikan dengan laku, akhirnya aku harap kau bisa melihat dan merasakan betapa indahnya hatiku. Ya, indahnya rasa hatiku yang aku lukiskan bersama dengan rasa cinta yang ada untuk dirimu.

“Mungkin hanya hujan yang dapat memudarkan warnanya. Jadi simpan baik-baik lukisan hatiku ini. Kelak ini akan menjadi sebuah penawar rasa rindu yang sangat kepadaku. Lalu dirimu akan bertanya, kenapa? Ah…sayang, lagi-lagi aku ingatkan jangan tanya kenapa. Ya, aku akan menyesalinya.

“Lukisan hati ini sebagai karya terakhirku untuk dirimu. Menyakitkan bukan? Memang harusnya dirimu tahu sebelumnya. Harusnya jua dirimu tahu akan indahnya hatiku, akan pula kagum dengan rasa yang kuberi, tulus dalam sebuah janji hati. Aku menyesal akan dirimu. Akan pintamu tentang menulis cinta. Jujur aku bukan tukang obral kata cinta, aku adalah aku yang jujur mencintaimu dengan sepenuh hati. Maka dari itu, aku lukiskan hatiku. Semoga dirimu mengerti. Aku bingkai sebagai kenangan.”

Langit kembali cerah karena hujan telah reda. Ah…keliru jika kau katakan langit ini cerah, yang benar hatiku yang cerah kembali. Seiring hujan berhenti sebagai awal sang matari mulai muncul seperti fajar pagi duniaku dalam lukisan hati.

“Selamat tinggal cinta, aku bawa lukisan hatiku untukmu…”

Selasa, 18 Agustus 2009

Nelangsa...

Oh...malam yang gelap

larut dalam renungan malam doa

Ah...desahan nafas tangis

seka dalam balutan nuansa

Uh...aku lagi dalam,

“Nestapa tanpa ujung jua.”

Merajuk Ingin...

Aku mau semua begitu adanya. Namun, yang ada begini jadinya.

Kenapa kirana itu tak tergapai? Atau memang kau bukan yang ada untukku.

ayal ku berujar;

“Kau memang sasmita”.

Aku tak sanggup menerka lagi, karena kau

memang misteri.

Lagi hanya merajuk ingin saja.

Selasa, 07 Juli 2009

Mengingatmu...


Harusnya aku sadari kehadiran dirimu dalam hidupku. Rasanya sudah setahun. Ah, tepatnya sudah berapa lama? Bahkan aku sudah lupa tentang awal cinta. Selaksa musim gugur, ingatan tentang dirimu berguguran dihempas alu cuaca yang normaltik. Perjalanan rasa tak mampu pula menggiring asa yang tercantum dalam benakku untuk mengenalmu lagi. Lupa ingatankah aku? Atau memang kamu memang belum sempat ada dalam nuansa hatiku?

Tanya tak selalu tuntut jawaban. Ada hal yang musti dijawab, dan ada hak untuk tak menjawab. Sebuah tanya tentang ragu pula tak pelak untuk di elak dalam sebuah kata TIDAK. Gugur sudah semua harap yang ada. Au makin tak bisa mengingatmu. Tolong jangan paksa aku tentang hal itu, tentang cinta, sayang, rindu, dan segala yang berbau asmara. Semua itu semakin menyakitkanku. Aku lupa saja rasanya diriku.

Musim akhirnya beranjak dingin. Salju bulan Desember menyerebak dalam alunan simfoni alam. Dingin suasana tak membuat ingatan tentangmu ada. Pernah kau berujar, “Di musim dingin ini pertama kali kau mengucapkan cinta untukku”. Ah, benarkah hal itu. Aku pernah berujar janji seperti itu? Apakah ada paksaan darimu kala itu? Atau kau menjebak diriku untuk berkata seperti itu? Dan aku terus berkelit dengan segala hal yang menuntut jawab.

Sepoi angin berujar halus, bunyinya menggetarkan bulu kudukku yang semakin menggigil. Seperti ini bunyinya; “Busttt, busttt, bustttt...” Ah, sepertinya angin ingin berkelakar denganku. Namun, sejenak aku teringat akan desahan nafas yang menyentuh kudukku. Tapi desahan apa ini? Siapa yang aku coba ingat. Ya, aku ingat akan kecupan dan desahan hangat dalam tubuhku. Kecupannya terasa dalam setiap hembusan angin itu. Dejavu, sepertinya ini pernah ada.

Kutentang arus bayangan tentang kecupan, dan semilir angin ini. tak jua tumbuh sedikit ingatan tentang suasana satu pun. Aku berlari menerjang butiran salju yang semakin deras menyerang bumi yang putih terhias depulan salju. Lagi aku tak bisa sekedar mengingat tentang rahasia ini. Semoga Dia masih ada dalam nirwana yang menerjemahkan semua sabda dalam alam dan sebagian angin yang mengecupiku berkali-kali.

Berbagi dengan sejenak ingatan yang masih lumpuh akan sebuah cerita. Karena aku tak melihat kebenaran yang logic dalam pandangan tentangnya. Aku berkesah selalu dengan tuntutan orang tentang sebuah kesempurnaan diri. Yang katanya, aku jenius, pintar, cerdas. Itu pandangan orang yang mengingatku. Lalu kenapa aku tak bisa mengingat semuanya jika aku jenius, pintar, cerdas. Apa bedanya antara jenius, pintar, cerdas? Mereka menjawab, “Singkatnya, jenius hasil hitungan dari sebuah kompetensi. Dan pintar dengan hati itu cerdas namanya”. Aku terlena dengan penjelasan tentang ku. Adakah dunia mengerti tentang resahku saat ini. Aku yang katanya cerdas, tak bisa—untuk saat ini—mengingat tentangnya.

Entah kemana alur cerita ini akan berlanjut. Akan klimaks kah? Atau ini masih sebuah eksposisi belaka? Mundurlah sang malaikat, aku akan beranjak ke sana. Jangan dulu kau tetapkan takdir untukku. Karena sebelum aku kembali, aku ingin mengingat dulu memori tentang diriku. Please aku mohon!

Senin, 06 Juli 2009

ASONANSI


“Rasakan saja pelukanku ini.”

Resah tak bisa bicara dalam nuansa hati yang jengah. Sedih tak akan cukup sebagai representasi rasa. Ingin rasanya aku hanya melihat dirimu tersenyum saja, biar aku tak perlu menangis karena katanya aku laki-laki—dan tabu untuk sekedar menangis. Karena kamu menangis, aku pun sempatkan untuk menangis pula, walau kamu tak pernah tahu akan isak tangisku. Karena pelukanku ini mengaburkan pandangmu untuk melihat kesedihanku.

“Aku masih sayang Kamu.”

Rasanya kata hanya isyarat sederhana dalam sebuah rasa sendu. Hati merupakan makna yang tak bisa direka melalui bahasa yang nyata—baik lisan maupun tulisan. Ah, rasanya kamu bisa sekedar merasa dalam pelukanku ini. Pernahkah kamu mengerti tentang getir hati? Kenapa begitu, mungkin seperti itu pertanyaanmu. Tapi, lagi-lagi hati tidak perlu pembenaran kata sebagai bentuk apresiasi. Hanya isyarat yang ada sebagai sasmita yang harusnya menjadi alu pembenaran waktu. Akan janji hati.

“Ssst...rasakan saja pelukanku ini.”

Hampir satu jam kita berpelukan. Tepatnya bukan kita, tapi aku yang memelukmu untuk sekedar lari dari kenyataan bahwa aku menangis. Tanpa kata, tanpa suara, tanpa ekspresi yang memang disembunyikan. Hanya suara alam yang menggema, karena malam sudah bergerak menuju waktu dini. Rintik hujan menambah suara sunyi menjadi syahdu. Ya, hanya alam yang bersenandung riang—rasanya, namun kita hanya merasakan duka. Aku menangis, dan kamu pun menangis dengan sendunya.

“Sudahlah...” itu katamu.

“Ssst...jangan dulu berkata.” Aku memintanya diam.

Aku masih terus memeluknya, aku hanya ingin mengelak dari rasa rindu yang telah memuncak terhadapnya. Aku masih sedih dalam dingin tubuhnya, dan tak merasa janggal dengan kehadiran dirinya dalam malam yang beranjak dini tersebut. Aku hanya kangen saja, aku mungkin rindu saja. Ada yang aku bedakan dalam dua kata yang hampir sama maknanya dalam sebuah arti kata. Ya, aku kangen karena aku merindukanmu. Aku rindu karena memang rindu lain dengan kangen, yang notabene hanya merindu saja. Aku sayang kamu.

Sebentar saja, biar aku nikmati tubuhmu:

“Aku belum bisa untuk melepasmu. Walau kenyataan yang ada tak mungkin untukku memintamu kembali lagi. Jujur, ada kalanya aku tak bisa mengerti dengan arti kata pisah. Mengapa harus ada pertemuan bila akhirnya harus berpisah jua. Mengapa pula awal cinta begitu indah, hingga akhirnya kita berpisah dengan titik air mata. Aku mohon, jangan kamu lepaskan dulu pelukan ini. Biar aku terus rasakan adanya dirimu. Aku terlalu merindukanmu saat-saat ini. Buang saja cerita tentang waktu, kita rasakan pertemuan ini tanpa harus ada lagi kata pisah, pergi, dan tiada. Karena aku mau terus mendekapmu agar kamu tidak pergi lagi. Setiap tetes hujan selalu memberi isyarat, dan tentunya memberikan kesejukan pada hatiku. Mengapa? Karena aku tahu kamu akan kembali dalam bayangan hujan yang ada. Aku percaya saja dengan bahasa alam. Dan memang kamu hadir, Sayang. Peluk terus tubuhku ini. rasakan cinta saja, tanpa pretensi yang lainnya.”

Selepas itu;

Perlahan tubuhnya menghilang. Pertama bagian kakinya yang kulihat terus tak menapak. Lamat-lamat hingga hampir memasuki ujung rambut. Aku tak karuan dalam pelukan yang semakin kempis karena ragamu semakin menghilang. Aku kalut, Aku menangis, semakin jelas dirimu akan pergi lagi menginggalkanku. Sebelum pergi perlahan kamu berucap:

“Jangan bodoh.”

Aku kecup ujung rambut yang masih tersisa.

“Aku sayang kamu.”

Selepas kamu pergi, aku masih sendiri menjalani malam yang biasa kita lalui bersama. Jika ini sebuah kenyataan, aku hanya ingin sendiri saja tanpa cinta, tanpa sayang, dan tanpa wanita lagi. Kecuali kamu hadir, dan mengucapkan tidak untuk sikapku ini.

Kembalilah. Aku menunggumu. 09

Lho...


Lagi aku bingung dengan keadaan. Ada dua rasa yang berbeda ketika hendak berpikir, untuk satu yang meragu dan satu yang memikat laku untuk bertindak. Dengan ratap aku hanya berkeluh tanpa penuh deru untuk berseru yang bahwasanya aku gila dengan keadaan yang mendua ini. setelah akal tak memberi solusi pada ruang imajinasi untuk berkreasi dengan kesempitan pola pikir yang beku. Bukan karena kamu, tapi ada dalam diriku yang tak ada kontemplasi jiwa.

Lalu kamu berkata, “Kamu gila. Hilang akal. Sudah nggak waras”.

Apa ukuran bagi seorang dikata gila, sinting, nggak waras?

Orang berkata gila karena tak punya nyali. Ya, nyali untuk menilai dirinya sendiri yang notabene kosong tanpa berkaca pada cerminan dirinya. Lalu dinama letak eksistensi diri? Temukan di cara ada dan mengada. Dimana? Ada dalam bentuk fisikal diri yang berbentuk. Disekitar jasmani yang terangkum dalam bentuk indah jasmani (fisik) sebagai pola terstruktur dari sebuah ciptaan. Letak “mengada” ada dalam ruh. Dalam ruh yang diisi dengan iman, dan kepercayaan akan keberadaan yang Maha Agung di luar skema diri kita. Siapa? Tuhan, tentunya. Yang dengan segenap hati kita percayai, dan bukan untuk ditanyakan keberadaannya.

Sungguh. Aku berani sumpah. Aku bukan gila karena mencari Tuhan. Aku bingung kenapa intelektual tidak dihargai dalam sebuah eksistensi. Itu saja pertanyaanku.

Aku hanya bingung, Ayah, Ibu. Lho….? Kemana Tuhan pergi.

Rabu, 13 Mei 2009

Tentang Cinta

Ah...cinta...
"kenapa harus cinta sih yang harus di bahas?"
Pertanyaan itu yang dijawab oleh sahabatku ketika aku bertanya tentang cinta padanya. Memang aku juga ragu untuk membicarakannya. Bukan masalahnya aku tak pernah merasa cinta. Namun, aku masih dilematis untuk membicarakan cinta sekedar teori, deskripsi, ataupun sekedar definisi.
"Justru itu, aku bingung harus darimana aku menjelaskannya."
"Ya, udah jawab saja, cinta itu datang tak di undang, dan pergi pun menyakitkan."
ha, ha, ha... aku tertawa dalam sebuah tanda tanya yang masih tentang cinta.
Sahabatku lalu berkata;
"Teman, Cinta tak butuh teori, cinta itu soal rasa. Ya, soal rasa memberi dan menerima. Aku lebih senang membahas cinta bukan secara teori, dogmatis, dan segala hal yang berbau candu dunia. Aku lebih senang membahasnya secara romantis saja. Dari pengalaman jiwa tentang arti pertemuan dan arti men- Cinta-i."
Wah, aku terkesan dengan alur ceritanya. Aku tersadar akan pancaran pandangan matanya. Yang katanya mata adalah pancaran keyakinan pemikiran.
"Lalu, sisi romantis mana yang ada sebagai sebuah cerita?" Lagi tanyaku padanya.
"Kamu tahu arti sebuah pertemuan dan cinta?" Tanyanya padaku.
Spontan aku jawab "tidak"--karena aku hanya memandang indah dirinya.
"Cinta hanya merupakan medium saja, yang notabene merupakan ungkapan kita sebagai individu dengan dirinya sebagai individu pula, lalu ada nuansa yang mempertemukan keduannya dalam satu rasa yang tersimbolkan dalam pandangan pertama. Ya, disitulah akan ada pertemuan yang sama antara kesamaan visi dan misi dalam kelanjutan hubungan dalam satu nama representasi cinta."
Ah...cinta.
Selang waktu, tak lama dari pernyataannya tersebu. Aku tak mau membuang kesempatan untuk menyatakannya;
"Aku cinta kamu, Ya."
Itu saja yang ada dalam ceritaku tentang cinta.

Kamis, 16 April 2009

Intuisi

Selalu ada bayangmu dalam setiap awal pancaran sinar matari pagi. Bukan hanya kali ini saja. Namun di setiap awal hari aku selalu mencari sosok bayanganmu itu. Ini sebuah rendezvous dari pencarianku, setelah siang itu aku pergi entah ke mana dan tak kembali.

Aku sempat berpikir, mungkin nanti kau akan suka dengan cerita ini. Aku selalu berharap kau bisa mendampingiku setelah semua cita ini menjadi nyata. Jika aku mengingat semua pesan darimu, aku selalu terpacu untuk bergerak. Karena aku tahu, ada Kau yang selalu mendukung setiap langkah yang kutempuh. Pernah Kau berujar;

“Ini cinta! Aku mencintaimu bukan karena Kau siapa! Ini cinta! Aku tekankan sekali lagi ini cinta! Aku tak mau mencampuradukan ideologi dengan cinta. Ketika semua ini berakhir, aku ingin mencintaimu sebagai individu, tentu tanpa pretensi apa pun jua. Biar cinta ini ada dan apa adanya”.

Ya, mungkin semua harus seperti ini adanya. Ketika ada dua pilihan tentang rasa, tentunya ini bukan sekedar pilihan satu cinta, dan lain pihak sebagai kewajiban tentang cita-cita sebuah idealisme. Pertarungan ini sempat mendera jiwaku, akan sebuah pilihan rasa tentang cinta. Tentu, semua ini tentang cinta dalam dua rasa yang berbeda.

Suasana semakin memanas. Gejolak kehidupan semakin menggelora, dan perubahan merupakan hal mendesak. Nuansa hari semakin redup, namun tak akan kubiarkan semua ini padam. Semua orang ramai bicara, dan banyak menuntut aksi nyata dalam sebuah perubahan. Lagi-lagi Kau semangatku, Cinta.

“Saatnya bergerak, sayang. Ingat, ikhtiar yang paling baik untuk saat ini adalah bergerak!” Sarannya saat itu, seperti yang pernah aku ingat.

“Aku belum siap jika harus meninggalkanmu saat ini.”

“Yang perlu kamu ingat, aku pernah ada dan selalu ada dalam hatimu. Jangan bodoh!”

Keyakinanku bertambah saat itu. Kau katakan bergerak adalah jawaban untuk semua cita itu. Aku mengukur kekuatan dalam diri. ‘Semua jangan dilakukan dengan bodoh’, itu katamu. Jujur aku tak kuasa, ketika aku genggam tanganmu. Mungkin ini genggaman terakhir, atau lebih tepatnya aku akan mati dalam medan laga. Kelak jika aku tiada, aku akan bersimphoni dalam dunia yang berbeda. Semoga ini tidak terjadi.

Aku dekap sekali lagi tubuhmu. Aku rasakan lebih dalam rasa cintamu. Tentu Kau tak melihat bagaimana air mata ini jatuh. Entah harus kusebut apa makna air mata yang jatuh ini. bahagiakah, sedihkah, atau apalah itu. Tentunya aku bahagia memilikimu. Lagi-lagi itu katamu, Sayang.

“Saatnya Kau pergi, Sayang.” Katamu sembari melepaskan pelukanku.

Selang waktu;

Arus perubahan sudah melanda. Sorak-sorai perubahan mulai menggema, seiring nuansa yang semakin tak menentu diterjang krisis kepercayaan. Semua bergerak menuju satu cita yang sama. Perubahan. Ya, semua menuntut sebuah perubahan. Dan itu mutlak adanya, untuk saat ini.

Aku mulai beraksi dalam gelanggang cita. Adanya aku bergelora, lalu aku putuskan untuk beretorika, sekedar menyengat gejolak massa yang semakin revolusioner dalam sebuah perjuangan untuk satu cita, Perubahan! Perubahan! Perubahan!...

Reformasi Saru

Aku tahu tentang kata tabu

Tapi ini, tak boleh berlalu

begitu saja.

Aku mengerti tentang sesuatu

Tapi mengapa,

aku harus membisu.

Ini zaman baru

Bung!

Dimana hal yang tabu

Menjadi sesuatu yang baru

Ya, itulah Reformasi

Katanya?

Massa kembali bergelora dengan suntikan semangat dari orasi yang kuberikan. Namun, aku tak merasakan suasana ini menjadi suatu perubahan. Orang ramai bicara, tapi ucap semu. Semua jadi gagu adanya. Teriak tanpa kata, bergerak tanpa makna. Aku merasa semua ini jadi kacau adanya. Belum sempat aku berpikir kenapa, aku rasakan dinginnya rasa dalam tubuh ini. Entah mengapa juga, aku terlentang di tengah ribuan massa yang kacau dalam suasana yang sama sekali tidak aku mengerti.

“agghhhhhh...!” aku sempat berteriak karena ini.

Aku melihat diriku terjatuh dalam keramaian massa. Dada kiriku banyak mengeluarkan darah segar. Aku tersungkur di sudut jalan itu. Aku terus pandangi gambaran tubuhku yang tergolek tak berdaya tersebut. Sampai di sini aku belum ingat dirimu, Cinta.

Akhirnya;

Aku sadari diri ini telah tiada. Aku tidak menangisi kepergian roh dalam jasadku ini. selama cinta masih ada, perjuangan tak boleh padam dalam perjalanan waktu. Namun, aku masih mencari keberadaan mu, setelah siang ini aku pergi entah kemana.

Selang rasa;

Aku tulis semua rasa ini dengan cinta. Dengan pena yang kau beri saat itu. Aku tulis semua penyesalan ini, Cinta. Ya, aku masih berjelaga mencarimu. Untuk bertanya satu hal, apakah Kau selalu mengingatku?

Namun, aku temukan dirimu di saat jasad telah terkubur dengan iringan tangis haru, dan ricik bunga kamboja yang mengiringi pemakaman jasadku. Aku sempatkan bertanya padamu;

“Mengapa kau tertawa saat aku tiada?”

David Setiadi,