Selasa, 02 Maret 2010

Simphoni


jika yang kau sentuh itu pasir, lalu gerakkanlah
biarkan jemari (atau dengan media ranting) itu membentuk kata indah tentang;
kejujuran rasa yang ada. Karena lamunan akan semakin menuntunmu kepada hal itu.
selama menunggu tak menjadi jemu, maka biarkan saja dulu rasa itu hanya sebatas ungkapan hati. Kelak biar takdir yang menyatukan niat kita, lalu akan ada kata yang terucap (dariku pula dirimu).
"Apa?" tak terjawab kali ini, tapi nanti...

Senin, 01 Maret 2010

Tatal tentang rindu


Aku tak kemana-mana, dan tak menghilang dalam pandangan.
Kau resah lalu timbul tanya dan rindu. Namun sebenarnya aku hanya merasa saja, karena aku hanya menebak bahwa aku yang ada dalam setiap tulisan itu. Ya, ketika sebuah pernyataan itu menuliskan 'Ya, Kamu!' Aku sebenarnya merasa begitu ragu, apakah benar aku yang kau rindu itu? Tapi seiring waktu, dan sejauh perihal yang selalu kau percayai (Tak ada yang kebetulan) kita bertemu lagi, namun bukan dalam ruang yang sama. Ruang baru yang sama indahnya, karena makna dan bermakna, dan kita yang selalu memberikan makna disetiap persentuhan itu.

PS: Sebentar lagi kita bersua. Tunggu aku di kota itu, lalu kita akan berbicara, menunggu, bercengkerama, dan bergumul kembali dalam sebuah cerita.^^

Senin, 22 Februari 2010

Tentang Hujan Hari ini...


Catatan ini aku tulis ketika hujan datang;

"Tik..tik..tik..." Begitulah bunyi awalnya..Lalu..
Hujan itu datang dan semakin menderas. Aku merasa langit mulai terus menghitam dan terus menghitam. Menawan sang awan semakin kelam dan hendak terjerembam dalam.
Mengapa harus ada bunyi ketika semua sunyi dan sebentar (lagi) malam?
dalam kelam aku berujar:
"Sebenarnya aku kenang kamu ketika hujan menjelang".

Jumat, 19 Februari 2010

About Love...


You love me like flowers
that love God's words.
Never tired of spreading their
aroma happiness.
Never tired of calming down their
worries.

You love me like the sun
that love us, thy God.
Never tired of radiating
its bright light.
Never tired of valuing life...

Senin, 15 Februari 2010

ke-Putus-an

Aku selalu berujar (padamu) dengarkan kata-kataku, jangan kamu pinta aku untuk berjanji. Lalu, kamu pun paham mengapa aku tidak suka berjanji.
"Karena pada dasarnya janji itu untuk diingkari".
Benar. Benar sekali, apa yang kamu katakan tersebut. Sekarang mengapa harus ada lagi kata 'kenapa' sebagai bentuk tanya. Apa kamu mulai ragu lagi padaku? Apa kamu mulai cemburu lagi padaku? kamu hanya diam tak berkata, lalu diam dalam tangis yang sendu. Sebenarnya bukan bahasa diam yang kupinta, namun bahasa sayang yang selalu ada dalam nuansa cinta. Aku tak tahan dengan tangismu.
"Diam. Ya, cukup diam saja." sembari aku memeluknya. "Rasakan saja pelukanku ini, menangislah dalam pelukanku ini. Ssstt..sudah tak perlu kamu berkata lagi. Lelap dan nikmati madu dalam setiap ciuman yang kuulas untukmu. Ya, aku sayang kamu. Maafkan aku selalu membuatmu menangis. Maaf aku selalu membuatmu cemas. maaf pula aku selalu membuatmu tidak percaya. Aku percaya, semua ini dapat menguatkan. Bukan cuma kamu tapi terlebih aku. Aku yang selalu harus kuat menghadapi fluktuasi rasa sayangmu. betul aku harusnya menikmati bentuk sayang yang diberi. Walau sayang tersebut kadang aku tak mengerti, karena kamu kemas dalam rasa possesif, tak percaya, dan selalu cemburu. Ya, aku tahu sekarang..kamu sayang aku".
Sebenarnya ada rasa malu yang tabu untuk kuceritakan. Aku menangis juga dalam hangatnya pelukan.
Pelan-pelan mulai terasa tangis itu mereda. Aku beranjak sejenak. Sebentar kemudian dia mulai memelukku dari belakang.
"Putuskan saja aku, biar kamu tenang".



Lepaskanlah..ikatanmu dengan aku biar kamu senang
Bila berat melupakan aku..pelan-pelan saja.*
(Kotak-pelan-pelan saja)

Kamis, 03 Desember 2009

Menemukan arti diri (Nilai, rasa, cinta, dan Jodoh)


“Lalu, di manakah jodoh itu?” Tanyaku
“ Ada mungkin di dekatmu, mungkin pula seseorang masa lalu, mungkin juga orang yang tak kau temui sebelumnya”. Jawabmu…
Jika itu merupakan pilihan, aku memilih seseorang yang baru dan ada di dekatku saat ini. Tapi siapa? Saat ini kedekatan bukan merupakan patokan dalam merasakan rasa yang sama. Adakalanya sebuah kedekatan hanya sebatas titik dimana kita hanya bisa menilai individu atas apa yang dilihat—dalam hal ini belum dengan perasaan. Untuk itu, aku pilih dengan pertimbangan yang sama sekali jelas bukan ada dalam bayangan yang terlewatkan sebelumnya. Biar semuanya berawal dengan sebuah nuansa hati yang baru, dan kita bisa meraba alur dari semua cerita ini bermuara.
“…ketika kau telah bisa temukan kesejatian dirimu kau akan sadari siapa yang tepat bagimu”. Itu katamu…
Kawan, aku dididik untuk menjadi seorang individulis. Seorang yang selalu harus percaya diri dengan segala kemampuan yang ada. Tentunya ada kalanya aku pun ada diposisi lemah, termasuk dalam kausal cinta yang bermuara pada tema jodoh itu. Ketika tanya harus menjadi jawaban, itupun belum sepenuhnya aku katakan benar. Karena setiap yang benar tersebut selalu bersifat subjektif, dan dari sudut sebelah mana kita menerkanya.
Kesejatian diri bukan mutlak diri kita sebagai individu yang berhak menilai. Walaupun hal tersebut merupakan hak asasi setiap individu. Dan kau pun rasanya tidak setuju dengan apa yang diungkapkan Satre tentang konsep eksistensinya, bahwa kita ada dan berada di dunia ini dengan sendirinya. Bukankah eksistensi kita juga dinilai oleh orang lain, yang menilai dan menjadi patron penilai dalam menentukan kesejatian diri kita sebagai individu.
Rasanya kita terlalu egois jika harus menentukan kesejatian diri itu hanya bersandar pada satu sudut pandang diri kita semata. Oleh karena itu, kita butuh seseorang yang bisa memahami, mengerti, dan cerdas menempatkan posisinya sebagai patner dalam menentukan arah dari semua cerita tentang cinta ini. Mungkin dialah jodoh yang ada dan tepat untuk kita.

: Jawaban untuk sahabatku ANP.
"Seperti inilah jawabanku, teman". ^^

Jumat, 20 November 2009

Tentang Pramoedya 1


•Antinomi

Wahai huruf ... alangkah akan tinggi ucapan terima kasihku, bilalah kamu menjadi buku terbuka, bagi manusia yang membacanya. (Pramoedya Ananta Toer)

Kata di atas merupakan sepenggal tulisan yang ditulis oleh Pramoedya dalam prolog sebuah bukunya Menggelinding 1. Bukan tentang tulisan tersebut yang ingin saya bahas dalam tulisan ini, namun ada sisi yang menarik ketika kita membicarakan Pramoedya sebagai sastrawan dan di lain pihak kita membicarakan muatan filsafat yang ada dalam setiap kata yang tertuang pada karya-karyanya—dan boleh kiranya saya menyebut Pram sebagai seorang filosof. Tentunya secara sosiologis, seorang sastrawan merupakan bagian dari masyarakatnya (suatu), ada penekanan pada pada sisipan “nya” yang saya kira bukan hanya sebagai partikel pengganti untuk kata jamak, namun saya lebih memaknainya sebagai penunjuk kepada hal yang dituju—yang dalam hal ini masyarakat tempat Pram berkelindan. Masyarakat sebagai sebuah komuni merupakan kumpulan dari berbagai ide, ideologi, agama, perasaan, persamaan, dan perbedaan, yang satu sama lain saling berkausal dalam sebuah konvensi yang dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab—seharusnya. Sebagai seorang sastrawan tentunya kita akan mengatakan bahwa muatan imajinasi akan lebih kental dalam sebuah makna. Namun jika kita berbicara Pram sebagai seorang filosof, di mana saya dapat membuktikan bahwa memang Pram sebagai filosof, setidaknya dalam karyanya.
Terdapat tiga kata yang menjadi jurang pemisah yang sering kita ungkap dalam membicarakan sastra dan filsafat; data, fakta, fiksi. Dengan mudah ketiga kata tersebut dapat kita pilah ketika mengatakan data digunakan untuk ilmu-ilmu empiris, fakta untuk sejarah, dan fiksi untuk sastra. Perlu kiranya saya bahas secara etimologis sederhana berkaitan dengan ketiga kata tersebut. Data adalah istilah Latin yang persis sama arti dan bentuknya dengan kata given dalam bahasa Inggris. Dare dalam bahasa Latin adalah to give dalam bahasa Inggris dalam bentuk infinitif. Sedangkan data/given adalah bentuk past participle. Dengan demikian, data berarti suatu yang diberikan. Di sini akan menyangkut kepada prasangka positivisme, yang menyatakan sesuatu dikatakan data jika kenyataan itu dianggap diberikan oleh alam, dan dimaknai oleh inderawi manusia. Hal tersebut akan merujuk kepada apa yang dinamakan veracitas naturae (the truthfulness of nature), atau kejujuran alam. Sebaliknya, Descartes dengan asas evedensinya berpegang pada asas veracitas Dei (the truthfulness of God). Dengan demikian, kedua hal tersebut akan berujung kepada apa yang disebut dengan knowledge (pengetahuan), bahwa pengetahuan tidak dimulai dengan data, melainkan hanya bisa dimulai dengan teori, sedangkan data berfungsi untuk menguji kebenaran teori.
Istilah fakta berasal dari bahasa Latin factum (bentuk past participle dari kata kerja facere). Dalam bahasa Inggris ekuivalennya adalah: done sebagai bentuk past participle dari to do. Istilah factum tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris, yang kemudian mengambil alih kata Latin tersebut dan mengubahnya menjadi fact. Disini konsep fakta berasal dari alam pemikiran yang berhubungan erat dengan behaviorisme.
Kenyataan-kenyataan dalam alam seakan-akan diberikan oleh alam dan karena itu disebut data. Sedangkan dalam sejarah kenyataan-kenyataan itu dianggap dibuat dan dilakukan oleh manusia melalui tindakan-tindakannya dan karena itu menjadi fakta. Fakta adalah hasil tindakan manusia sebagai homo agens atau mahluk yang bertindak dan berbuat. Baik data atau fakta selalu berhubungan dengan indera manusia. Data diterima oleh indera manusia sedangkan fakta dilakukan melalui indera manusia.

to be continue...