Selasa, 06 Juli 2010

Jodoh..(ini)

Rasanya benar ini sebuah feeling

ketika aku hendak menduga:

"JODOHKU SUDAH DEKAT"




:Kamu. Refa Yuanita Azizah...

Selasa, 22 Juni 2010

nukilan


Apa yang akan terjadi jika kita bersama lagi?
Menurut mereka patah tulang akan semakin menguatkan.
lalu apakah kita juga bisa semakin kuat?

Mungkin kita akan berbohong dan saling menyakiti lagi,
lalu kita berpisah.

Lupakan..bahwa kita saling merindukan
Lupakan..betapa kita menyesal.

Senin, 21 Juni 2010

..., dan yang beranjak pergi.


Ada cerita tentang "jejak dan kenangan" hari ini. Setidaknya seperti itulah anasir yang kutemukan setelah membaca hari dalam bentuk tulisan senja. Entah mengapa semakin terbentang jelas perbedaan dari sebuah rasa yang tak bertuan ada. Ini bukan hal mudah untuk mengatakan aku pergi, kau pergi, dan rasa itu pergi (yang entah kemana dia beranjak). Ketika aku mulai rindu menerka apa yang menjadi cerita (disetiap harinya) yang kau tulis dengan bingkai senja, aku terhenyak ketika harus menemukan dan mengeja kata kepergian, melupakan, dan kenangan. Seperti itukah muara dari rasa sesal?
Kenal, mengenal, lalu mengenalimu, dan timbul kedekatan yang terasa satu lagi denganmu sungguh menyenangkan. Walau sekarang itu hanya bingkai dari sebuah yang kau namakan "Kenangan", dan aku tak bisa mencegahnya. Benar pada akhirnya selalu ada perpisahan sebagai perpaduan untuk setiap perjumpaan. Aku kira kata takkan cukup lagi untuk mengatakan penyesalan, ataupun untuk selalu menggali kata tanya "Mengapa".

Aku ingin mengutip sebuah pernyataan yang pernah kubaca dalam sela;
"Pertemuan dan perpisahan itu sebetulnya sama, bagaimana kita memaknainya".

:dan aku yakin kau membacanya.


ket: Gambar burung Manyar. Filosofi tentang burung manyar dapat dilihat dilaman ini, http://johnnash.blog.friendster.com/2008/11/burung-manyar-ploceus-philippinus/

Rabu, 09 Juni 2010

Membeli mimpi...


Pekan ini merupakan pekan kedua di bulan Juni. Hampir disetiap tahunnya, disetiap pertengahan bulan Juni selalu ada kesibukan. Dan tentunya setelah kesibukan tersebut ada waktu jeda untuk istirahat. Ya, liburan sekolah dipenghujung akhir tahun ajaran. Setelah sebelumnya disibukkan dengan aktivitas ujian kenaikan kelas, pembagian rapor, dan ketegangan menunggu naik atau tidak ke jenjang kelas berikutnya. Bagiku ada yang menarik dengan persiapan liburan kali ini. Seperti ini ceritanya:
Bagi kami (baca: keluarga) tidak ada tradisi liburan disetiap akhir tahun ajaran. Cukup dengan diam di rumah, tentunya dengan berbagai aktivitas disekitar rumah sudah menjadi hal yang menyenangkan (kadan jenuh) bagi kami sekeluarga. Hal tersebut sudah menjadi rutinitas, kalau tidak untuk mengatakan memang tak cukup waktu dan dana untuk pergi liburan.
Adikku, sudah beranjak besar. Sekarang mulai memasuki kelas enam sekolah dasar. Rasanya, jika mengingat kisah aku dengan adikku yang kedua tentunya tidak adil dengan kondisi keluarga kami sekarang yang notabene sudah dapat dikatakan cukup (untuk tidak mengatakan mapan) untuk memberi mimpi liburan kepada adikku tersebut. Ya, aku sering menganggapnya sebagai membeli mimpi yang tak terbeli dulu. Akhir tahun ini memang momentnya tepat, dan alhamdulillah ada sedikit rezeki untuk liburan. Benar, sebetulnya masalah selama ini memang selalu berkutat dengan waktu dan dana. Untuk itu jauh hari, aku sudah sesuaikan waktu dan tentunya menyisihkan sedikit uang untuk persiapan liburan akhir tahun ini. Bukan untuk aku tentunya, untuk adikku yang harus terbeli segala mimpi-mimpinya. Karena bagiku mimpi dimasa lalu takkan pernah sama rasanya, walaupun saat ini aku bisa membeli mimpi-mimpi tersebut.
Untuk adikku Sandy Maulana Setiaji, "Jangan takut bermimpi, pasti ada jalan dimana kita bisa meraihnya".




: Hayu 'Nyet' siap-siap berangkat ka Jogja...Berangkat............(^_^)

ket. Foto: Sandy (Baju biru), Oga (baju orange)

Senin, 31 Mei 2010

For a memory with you.


Tak mengapa jika semua harus menjadi seperti ini, jangan tanya kenapa...

Ada getar ketika aku sebentar merasakan kehangatan ini. Ya, denganmu menghabiskan senja kali ini, di pantai yang tentunya indah ini. Selang sejenak dari pertemuan denganmu tadi begitu hikmat terasa. Entah mengapa rasa itu ada, mungkin karena aku rindu padamu. Jika 'ya' perasaan itu rindu aku harap aku benar menuangkannya padamu, jika tidak sebenarnya itu hanya luapan sementara antara perjumpaan dengan beban rasa yang dilema.

Untuk apa kita bersama jika semua hanya dus...

Ketika aku larut dalam hangatnya pelukanmu, aku merasakan begitu dekatnya kita sebagai individu yang saling merasa. Rasanya aku masih dapat mengingat bagaimana desahan nafasmu yang mulai terengah, dan hal itu sama seperti saat ini ada dalam pelukanmu. Aku cium pula serangkaian harum rambutmu yang terurai, dan ini merupakan hal yang baru darimu karena saat bersamaku dulu (ya aku masih ingat) rambutmu pendek dan itu lucu. Aku ingin melepas pelukanmu untuk bertanya sesuatu, "Mengapa ada pertemuan denganmu lagi? Sebenarnya aku muak dengan segala dus...".

"Mengapa kau melepasku, jika cinta masih ada dalam...?" itu katamu.

Karena aku mencintaimu, untuk itu aku melepasmu. Adakalanya realita tak sama dengan semua cita yang diharapkan ada nyata. Biar saja ini menjadi kenangan, yang paling tidak bisa menjadi sebuah cerita ditulisan ini. Untuk saat ini dan nanti.



: aneh mengapa bisa menulis ini, dan di siang bolong pula.

Sabtu, 29 Mei 2010

Jamjarikuring...

Saat ini aku tak bisa lagi mengeja kata (per-) sahabat (-an) dan Cinta. Entah mengapa aku sulit sekedar untuk mengatakannya, bahwa kamu adalah sahabatku dan dinda adalah cintaku.
Terlepas dari semua itu, aku ingin memulai hal yang baru tanpa merasa benar dan harus menyalahkan diri sendiri lagi. Selepas dzuhur hari ini, aku ingin merasakan hangatnya percakapan denganmu lagi. "Ya, aku butuh anda guruku". Seperti tuturanmu:

Tiada pengetahuan diperoleh tanpa mencari, tiada kesentosaan tanpa rasa sakit yang tak alang kepalang, tak ada kebahagiaan tanpa kesengsaraan. Setiap pencari mesti, pada suatu ketika atau saat lainnya, mengalami pertentangan kewajiban, yang mengaduk-aduk hati (Baghavad Gita).

Rabu, 26 Mei 2010

Jejak kenangan untuk simfoni yang indah


Sebuah jawaban untuk resah;
Betul seperti begitu banyak penjelasan yang kau ungkapkan tentang aku (dan aku ingin berbicara tentang aku). Selama ini memang hanya kau paling mengetahui tentang aku (dengan segala kekurangan dan sedikit kelebihan), dan semua tak seimbang karena aku tak bisa mendalamimu ataupun memahamimu seperti yang kau lakukan untukku. Aku mohon maaf atas semua itu.
Ya, benar. Aku memang selalu (pe-) ragu. Dan tentunya kau sudah tahu dari dulu bahwa aku memang seperti itu. Tapi aku ingin memberitahumu, dibalik keraguan tersebut sebenarnya aku tidak diam, aku berpikir, dan selalu mencari cara yang terbaik untuk semuanya (itu yang aku maknai sebuah 'Harmoni'). Tentang 'jingga', aku menggunakan kata tersebut untuk menganalogikan perasaan hatiku tentang suasana yang terjadi.
Aku hanya ingin mengatakan padamu, jangan salahkan perasaan yang ada, dan aku pun menyadari kesalahanku selama ini (atas waktu yang pernah kita lalui) yang (selalu) salah menempatkan batas wajar dari semua tentang perjumpaan, pergumulan, dan tentang kedekatan.
Kau tanyakan padaku,"mengapa tak kau yang memulai harmoni itu?" (ketika itu). Aku ingin memulainya pada saat itu, dengan caraku dan mencari tempat yang nyaman untuk kita bicara. Selepas kau tinggalkan kami, saat itu pun aku kecewa dan hal yang selama ini menjadi keresahanku menjadi randu kembali. Ya, seperti itulah aku, dibatas tapal akan kejenuhan nurani. Dan aku selalu bertanya, "Mengapa hubungan yang selalu aku jalani harus (melulu) salah?".
Jika cinta bagimu doa..aku memintamu jangan berhenti untuk mendoakanku, begitu pula aku akan selalu mendoakanmu..Tentunya doa dengan nuansa yang berbeda, dan kau tahu apa maksudnya dari pernyataanku ini.

untuk sebuah kenangan:
Aku pernah bertanya padamu (dulu), "Apakah dengan menuliskan resah dapat dikatakan benar? Karena bagiku menulis itu adalah sebuah pengalihan dari sifat burukku yang tidak bisa mengatakan resah tersebut dengan lisan. Tampaknya aku sudah tidak sehat".
Kira-kira seperti itulah yang aku tanyakan, lalu kau mengatakan padaku;
"Jangan berhenti menulis, vid!". Kira-kira seperti itu jawabanmu. Maaf, seperti kau tahu ingatanku selalu terbatas.
Dari hal tersebut, aku ingin mengatakan padamu: "Kita bicara, dengan bahasa lisan tentunya". Dan ini tawaran, kau boleh menolaknya.


ps: Jangan tinggalkan aku, karena aku masih ingin mewujudkan cita-cita yang kita ucapkan pada saat itu (dulu), kita harus bertemu kembali di kampus (dalam suasana yang berbeda) tempat kita merangkai masa depan bersama untuk sebuah cita.