Selasa, 20 Juli 2010

(Lagi) Akupun terpanah asmara oleh indah rasa yang kau beri


Terpanah Asmara

Bunga Citra Lestari


mencintaimu
sesuatu yg tak bisa aku hindari
begitu kuat perasaan yg kurasakan
dirimu hadir di saat aku rindukan belaian
terpanah aku akan cinta yg kau tancapkan
reff:
dan kau bawa aku ke awan menghias langit
merangkai bintang2 menjadi sebuah kata
sebuah kata cinta

seindah-indahnya bila tersentuh hangatnya asmara
sebentuk cinta yg au beri apa adanya

reff2:
dan tercipta pelangi jiwa warnai hatiku
engkau anugerah terindah dariNya untukku
engkaulah kekasih separuh jiwaku


Sejumput rasa itu meraung, meledak, hingga melayang, dan lagi aku terkuatkan oleh rasa yang benar ada.

Rasanya meresapi lagu dengan lirik yang bermakna di atas (Terpanah Asmara-BCL) membuatku merasa adanya cinta itu. Ya, cinta ragu yang seolah menjadi keyakinan akan perasaan. Entah ini cuma sekedar latah (akan nyanyianmu tadi malam), atau memang benar aku semakin merasa cinta yang sesungguhnya. Dan tentunya lagi kepadamu (Refa Yuanita Azizah).

Jika aku adalah sebuah anugerah, tentunya kau adalah seorang yang benar pengugah rasa yang hebat. Dan kau membuatku mengerti akan kata dan rasa rindu, cinta, mencinta, setia, dan apa adanya tentang ketulusan hati. Lalu aku ingin berkata seperti ini padamu:

"Mari kita bersama. Kita bangun rumah sederhana (dalam hati kita), dengan hangatnya perasaan, tulusnya cinta, dan suasana hati yang satu merasa. Aku ingin kau menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku kelak. Jika ini sebuah penawaran, tentunya aku berharap jawabnya ada dan 'dengan senang hati aku mau' kau menerimanya dengan sederhana. Ya, dengan sederhana, seperti aku yang selalu mencintaimu 'dengan sederhana' (dan selalu)".


:standar sih, cuma seperti inlah ungkapan perasaan 'yang aneh' ada...*_*

ps: I LOVE YOU

Senin, 12 Juli 2010

Telisik

Rasanya terlalu menggelitik jika harus mengulas masalah ‘telisik’, ‘menelisik’, dan segala hal yang berakhir dengan isik-isik. Jam di rumah mengatakan melalui bunyi yang dikeluarkannya, aku hitung ternyata ada denting tiga kali banyaknya yang berbunyi. Aku tak ambil peduli karena baru pukul tiga saja. Setelah sebentar menelisik ternyata pukul tiga dini hari. Dengan gaya ‘Olga’ spontan aku berujar; “OMG, sudah selarut ini”. Dan ternyata aku terlalu mendalami setiap lembaran buku Mereka Yang Dilumpuhkan karya Pramoedya Ananta Toer. Ya, seperti itulah bergumul dengan anak rohani dari Pramoedya. Seolah waktu takkan cukup untuk menghentikan geliat apresiasi terhadap setiap lembaran karyanya.

Telisik punya selisik. Aku hampir tak pernah lupa mencatat setiap waktu dari buku yang aku beli. Tercatatlah Februari 2009 dari Pameran Buku Bandung, yang aku temukan dalam halaman awal buku Mereka Yang Dilumpuhkan. Telisik punya selisik pula, ini merupakan rangkaian pembacaan terhadap buku ini yang untuk ketiga kalinya. Tapi yang menarik, ketika awal minggu tanggal 5 Juli 2010 aku seperti merasa membaca buku tersbut untuk pertama kalinya. Seperti ada energy yang berlebih, aku menggulum buku tersebut, semakin dalam dan dalam lagi terasa aroma humanism dan sejarah yang kental dalam setiap persentuhannya. Inilah yang menarik dari setiap bentuk apresiasi terhadapa karya-karya Pramoedya Ananta Toer.

Bukan. Ya, bukan. Ini bukan sekedar rasa yang memang suka, kagum, gemar dan menggemari setiap karya yang tegaris oleh Pram untuk menjadi karya yang agung. Ini benar sebuah rasa yang menyenangi setiap tuturan yang tertuang dalam bentuk untaian kata. Setiap pergumulan tersebut selalu menimbulkan permintaan rasa yang memaksa untuk:

“Ajari aku untuk menjadi bias sepertimu, Pram”.

Ya, bisa untuk menyumbangkan secercah nuansa baru untuk dunia. Seperti yang selalu kubaca dan membuatku bangga darimu: “Sumbangsih Indonesia untuk Dunia”.

Telisik punya selisik. Ini merupakan jawaban dari setiap makna yang kau siratkan dalam setiap kata yang tertuang:

“Kini nyata olehku: tidur adalah kurnia alam yang maha besar! dalam tidur ini orang kembali menjadi bayi yang baru dilahirkan—suci dan sempurna sebagai manusia walaupun pasif”.

Tapi sekarang kau sudah tertidur tenang. Dan aku?

“Aku tak juga bisa tidur! Aku mau tidur. Aku mau melupakan segala-galanya—juga mau melupakan panas yang mulai membakar daging. Tapi tak juga bisa”.

Menelisik kebelakang, dan ternyata aku sadar: “aku sedang dalam nestapa tanpa ujung jua!”.

:sudah dini hari ini. Aku hendak tertidur pula Pram.

Rabu, 07 Juli 2010

selang hari ketika kau putuskan untuk memilihnya...


Kali ini bukan hanya menjauh, ketika jarak sudah semakin memendar.
Bukan sekali rasanya kita seperti ini, yang hanya diam membisu dan (mungkin) saling menunggu tentang cerita hari ini. Ini menyakitkan ketika harus ada sebagai bagian dari cerita hari ini. Yang notabene aku rindu tentang; cerita gundah, desah, dan indah itu.
Semakin kita memberi sikap akan jarak, tentu beban akan rasa itu makin ada dan dalam terasa. 'Benar seperti itukah?' katamu. Ya, semakin jauh dan menjauh bukan pudar yang ada, tapi geletar hati semakin mengingatkan kita akan getar rasa yang pernah ada.
"Lalu harus seperti apa aku bersikap?"
Seperti yang kau katakan lagi:
"Aku tak bisa menemuimu lagi, karena disetiap pertemuan akan ada hal yang mengingatkanku padamu". Dan itu adalah pilihan sikapmu.
dan aku sekedar berkata:
"Nikmati saja setiap yang ada saat ini. Semuanya yang ada: Suasana, romansa, pertemuan, dan perpisahan (yang kau pilih). Dan seperti aku telah jelaskan, bahwa aku takkan kemana-mana dan takkan menjauh memendar darimu".



:mungkin ini sementara saja. Yang perlu kau tahu, "Aku bahagia dengan yang ada sekarang".

Selasa, 06 Juli 2010

Jodoh..(ini)

Rasanya benar ini sebuah feeling

ketika aku hendak menduga:

"JODOHKU SUDAH DEKAT"




:Kamu. Refa Yuanita Azizah...