Rabu, 06 Oktober 2010

NITA


Nit, bolehkah aku menjadi jari kelingkingmu?

yang engkau pakai untuk membersihkan lubang hidungmu

Nit, bolehkah aku menjadi jari tengahmu?

yang bisa engkau gunakan untuk memaki

Nita, bolehkah aku menjadi tangan kananmu?

yang engkau percaya..yang engkau percaya

Nita, bolehkah aku menjadi tulang punggungmu?

yang menyanggamu, yang menyangga tubuh indahmu

Nita, bolehkah aku menjadi tulang punggungmu?

yang bisa menafkahimu

Nita, bolehkah aku?

MENIKAHIMU

Selasa, 28 September 2010

jika Tuhan (ku) adalah Tuhan (mu)

Membicarakan Tuhan dalam diam. Coba menerka apa yang menjadi kehendak ketika coba melaku, dan tentunya gerak seakan jadi gagu karena ragu.
Benar adanya Tuhan ada ketika merasa, namun selalu saja ada tanya dalam resah. Ketika. Ya, ketika kita hanya mencoba menggunakan (mengingat, memanggil, mengerti, dan merasakan) ada Nya ketika resah muncul dalam sebuah upaya melawan segala ketidakberdayaan. Memang benar ada yang kuasa untuk melaku, namun diri ini selalu lusuh sebelum sempat mengeluh. Ya, ketidakberdayaan selalu menyerang diri di awal, sebelum persiapan akan serangan belum siap untuk berlaku. Tentang Tuhan, aku bertanya:
"Benar kita memujanya dengan ikhlas, atau hanya pembenaran pragmatis diri yang membutuhkanNya. Ya, hanya sekedar saja".

Minggu, 05 September 2010

Sebuah Episode

Setelah adanya waktu yang tersedia, tapi tak ada sedikitpun manfaat yang ada nyata. Mendengarkan saja kau sulit untuk berlaku, apalagi dayaku setelah kau tawarkan kata sabar yang selalu ada. Setiap kesempatan aku sekadar ingin bersimfoni dengan bayanganmu yang ada dalam benakku. Karena saat ini yang ada hanya upaya untuk mengingat saja yang menjadi resolusi akan rindu, selain komunikasi yang saat ini mulai hambar. Ya, berbicara yang hanya mengulang isi yang sama tanpa ada kebaruan. Katamu, “Sudahlah jangan lebay, jalani aja biarkan mengalir”. Sulit rasanya (untuk saat ini) mengerti jalan pikiranmu. Berat rasanya (ketika) aku harus jujur dengan perantara kata (tulisan) seperti ini, yang notabene hanya gundah sepihak. Mungkin katamu, “Kenapa tak bicara saja!”. Ah, rasanya (bagiku) kata saat ini justru menjadi jembatan pemisah yang sulit untuk aku lalui karena kau mematok kata peringatan: “Jangan lewati batas privasi kita”. Ya, seperti itulah keadaan suasana hati yang ada. Setidaknya ini hanya tafsiran sepihak, dan jika ada kesalahan baiknya kamu ingatkan aku. Dengan kata tentunya, bukan laku yang meminta respon untuk sekedar aplikasi dari rasa marah, sesal, dan bebal.

Setelah mimpi semalam, yang kamu pun tahu apa isinya. Aku tak lagi menemukan sosok dirimu dalam nyata. Aku sulit untuk mengatakannya, “Tak ada lagi kamu yang ada dalam dunia nyata”. Ya, tentang sosok dirimu, tantang tawamu, tentang suara indahmu, tentang merdunya nyanyianmu, dan tentang segala ekspresivitas dari dari setiap tuturan cerita. Karena saat ini kamu tak menampak ada sebagai kekasih yang penuh dengan rasa cinta dan bangga akan memiliki. Ini juga mungkin pertanda dari mimpi yang tersirat setelah istikharah, karena setelah itu aku pastikan tak ada lagi isyarat tentangmu. Mungkin Tuhan menitahkan aku untuk rehat, untuk istirahat dari segala pikir tentangmu. Tapi maaf, Tuhan. Aku tak ingin mundur dari gelisah ini, walaupun benar Kau yang menentukan segalanya, namun aku ingin usaha meluluhkan hatinya dulu. “Beri aku kesempatan itu”.

Pesanku:

“Jangan bertanya mengapa aku menulis cerita ini. Biarkan saja cerita ini ada apa adanya, seperti juga mengapa rasa cinta, senang, bahagia, dan saat ini sesal boleh ada. Ini hanya sebuah episode dari setiap alur yang boleh terjadi dari cerita tentang rasa kita. Ya, tentang kita, karena tokohnya adalah aku dan kamu tentunya”.


: "Aku titipkan bunga mawar ini, jangan kamu biarkan jadi layu atau mati kemudian".

Senin, 09 Agustus 2010

Kidung sesal dari pojok resah

...
Jadi: Mengapa semudah itu berpaling?
Jadi: Mengapa tidak berusaha berjuang untuk bertahan?
Jadi: Mengapa membiarkan diri untuk digoda atau menggoda di luar sana?
Ketika pada saat yang sama, banyak orang bahkan sampai kering air matanya dan pucat pasi karena terlalu banyak darah mengalir dan nyeri karena dalamnya kesakitan yang menusuk, saat mereka sekedar ingin untuk melangkah ke depan bersama-sama dengan yang dicita, kenapa di tempat lain ada banyak orang yang begitu mudah melepaskan seseorang yang dulu bahkan dipilihnya sendiri untuk dicinta dan dinikahi?

Aku kira
Aku pikir
aku yakin
kebahagian itu keseimbangan
Kau ?

...

Biar keajaiban saja yang merengutmu
seperti juga cerita ini boleh ada.




: Disadur dari tatal karya Dee dan Kuti, ditambah dengan puisi SEBUAH EPISODE karya Yvonne de Fretes

Jumat, 30 Juli 2010

Ode untuk Bapak

Bapak memberiku buku, ketika aku mulai sulit untuk mengeja
padahal
yang aku butuhkan (saat ini) pengertian
tentang apa mau

Selasa, 20 Juli 2010

(Lagi) Akupun terpanah asmara oleh indah rasa yang kau beri


Terpanah Asmara

Bunga Citra Lestari


mencintaimu
sesuatu yg tak bisa aku hindari
begitu kuat perasaan yg kurasakan
dirimu hadir di saat aku rindukan belaian
terpanah aku akan cinta yg kau tancapkan
reff:
dan kau bawa aku ke awan menghias langit
merangkai bintang2 menjadi sebuah kata
sebuah kata cinta

seindah-indahnya bila tersentuh hangatnya asmara
sebentuk cinta yg au beri apa adanya

reff2:
dan tercipta pelangi jiwa warnai hatiku
engkau anugerah terindah dariNya untukku
engkaulah kekasih separuh jiwaku


Sejumput rasa itu meraung, meledak, hingga melayang, dan lagi aku terkuatkan oleh rasa yang benar ada.

Rasanya meresapi lagu dengan lirik yang bermakna di atas (Terpanah Asmara-BCL) membuatku merasa adanya cinta itu. Ya, cinta ragu yang seolah menjadi keyakinan akan perasaan. Entah ini cuma sekedar latah (akan nyanyianmu tadi malam), atau memang benar aku semakin merasa cinta yang sesungguhnya. Dan tentunya lagi kepadamu (Refa Yuanita Azizah).

Jika aku adalah sebuah anugerah, tentunya kau adalah seorang yang benar pengugah rasa yang hebat. Dan kau membuatku mengerti akan kata dan rasa rindu, cinta, mencinta, setia, dan apa adanya tentang ketulusan hati. Lalu aku ingin berkata seperti ini padamu:

"Mari kita bersama. Kita bangun rumah sederhana (dalam hati kita), dengan hangatnya perasaan, tulusnya cinta, dan suasana hati yang satu merasa. Aku ingin kau menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku kelak. Jika ini sebuah penawaran, tentunya aku berharap jawabnya ada dan 'dengan senang hati aku mau' kau menerimanya dengan sederhana. Ya, dengan sederhana, seperti aku yang selalu mencintaimu 'dengan sederhana' (dan selalu)".


:standar sih, cuma seperti inlah ungkapan perasaan 'yang aneh' ada...*_*

ps: I LOVE YOU