Jumat, 30 September 2016

Pemuka baru

Saya akan memulai dengan sapaan, "Hai..Halo..Apa kabar?"
Rasanya sudah terlalu lama saya membiarkan blog ini hampa tanpa rasa (baca: tanpa tulisan). Sebetulnya ada beberapa yang ingin saya bagi dalam tulisan, hanya saja saya punya alasan mengapa tidak jadi untuk menuliskannya di media ini. Lama sekali rasanya, dua atau tiga tahun terakhir ketika saya memosting tulisan yang terakhir. Sebagai bentuk pertanggung jawaban, mulai minggu depan saya akan memulai kembali mengisis blog ini. Sama seperti dulu ketika pertama kali menulis di media ini, saya merasa mendapat 'teman' baru untuk berbagi dalam tulisan. Oleh karena itu, tulisan berikutnya akan saya dedikasikan kepada 'teman' itu. Tunggu aku dalam kata.

Senin, 17 November 2014

Namamu, nak: Arti, Pertanggungjawaban, dan Doa.

Tepat dipernikahan kami yang memasuki tahun kedua, kami diberi amanah untuk membesarkan dua anak. Anak pertama kami lahir pada hari Jumat dini hari pukul 01. 20 lelaki bernama Adam Nahari Sastraguna. Selang setahun, anak kedua kami lahir. Tepatnya lahir hari Kamis sore pukul 16.20, lelaki bernama Alby Aksa Sastraprawira. Keduanya lahir melalui proses cecar yang sangat menguras tenaga ibunya. Tulisan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban terhadap pemberian nama terhadap kedua anak kami. Tentang arti, pertanggungjawaban, dan doa kami orang tua.

ADAM NAHARI SASTRAGUNA
Adam Nahari Sastraguna, anak lelaki pertama kami ini lahir dengan proses persalinan yang cukup lama. Setelah mengalami proses persalinan secara normal hingga pembukaan sepuluh, akhirnya dokter memutuskan untuk mengambil jalan operasi. Ada beberapa pertimbangan mengapa kami memutuskan untuk memberinya nama Adam. Adam, kami artikan sebagai nama yang merepresentasikan ke-lelaki-an. Adam pula yang merupakan lelaki pertama yang ada di dunia. Adam, diartikan sebagai anak lelaki pertama yang lahir dikehidupan kami. Kata 'Nahari' berasal dari bahasa Arab yang lebih kurang dapat diartikan sebagai pengorbanan. Selanjutnya, kata 'Sastraguna, melekat erat sebagai satu kesatuan. Walaupun sebetulnya arti kedua kata tersebut memiliki perbedaan. Kata 'Sastra' bermakna baik atau sesuatu yang mengandung kebaikan. Sedangkan kata 'guna' bermakna kegunaan, memiliki guna, atau berguna. Dengan demikian, Adam Nahari Sastraguna bermakna lelaki baik yang siap berkorban bagi keluarga, agama, negara, dan bangsa. Itu harapan dan doa kami sebagai orang tua bagi dia, Adam Nahari Sastraguna.

ALBY AKSA SASTRAPRAWIRA
Alby Aksa Sastraprawira, anak kedua kami yang lahir bertepatan dengan peringatan hari Pramuka 14 Agustus 2014. Bukan tanpa alasan kenapa kami memutuskan melakukan proses persalinan pada tanggal tersebut. Hari Pramuka setiap tahunnya selalu diperingati tanggal 14 Agustus, tanggal dan hari ini merupakan hari yang spesial bagi bapak kami Rustam Efendie. Beliau merupakan pegiat aktif dalam dunia kepanduan/pramuka di Indonesia. Sebagai bentuk hormat terhadap beliau, kami persembahkan kelahiran anak lelaki kedua yang mudah-mudahan kelak bisa meneruskan tradisi berbakti baik yang diwariskan dari bapak kami.
Alby, albi, qalbi dalam bahasa Arab dapat berarti hati. Pelafalan kata qalbi/qalbu dalam bahasa Arab Mesir dilafalkan 'albi', sehingga kami memutuskan untuk menggunakan kata 'Alby' dengan menggunakan konsonan 'Y' sebagai nama anak lelaki kedua kami. Aksa, berasal dari kata 'ikhsan' yang telah mengalami proses pembentukkan kata secara etno-linguistik sehingga kata 'Aksa' tersebut bisa diartikan sebagai manusia. Kata Sastraprawira, melekat menjadi satu kesatuan walaupun dalam pemaknaan kami artikan secara terpisah. Kata 'Sastra' sama seperti apa yang kami harapkan pada nama anak lelaki pertama kami. Dari kata Sastra tersebut kami berharap kelak dapat menjadi manusia yang baik. Kata Prawira merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Sunda yang berarti perwira atau kesatria. Dengan demikian, Alby Aksa Sastraprawira bermakna manusia baik hati dan berjiwa kesatria. Seperti itulah harapan dan doa kami bagi dia, Alby Aksa Satraprawira.
Jikalau tulisan ini menjadi sebuah bentuk pertanggungjawaban, kelak ini merupakan jawaban dari segala pertanyaan tentang arti nama kalian berdua, anak-anakku. Arti, makna, dan filsosofi nama kalian berdua merupakan harapan dan doa kami orang tuamu. Kelak, kalian akan tumbuh dewasa dan jadilah seperti yang kami berdua harapkan. 


Salam hangat dan penuh cinta 
Dari Ayah dan Mabun.
Takzim

Selasa, 25 Maret 2014

Tatal Perona

Dalam temaram lampu malam, aku mengingat (lagi) semua yang telah berakhir. Semua jalan yang terlintas seperkian detik yang lalu, aku tak bisa kembali pada nuansa—yang tadi ada. Ada masa ketika aku hendak kembali pada-Nya. Ada kala aku ragu pada waktu yang terus mengejar tiba. Namun, ada sebab dan ada akibat dari semua yang menjadi.
Soal menemanimu saat ini adalah akibat. Akibat dari adanya sebab rasa yang meminta. Yang mungkin ini tak bisa dijawab untuk sekedar menjawab semua tanya darimu seperti, “kenapa?”. Ini tentang rasa yang tak bisa dijawab dengan kata. Ini tentang hati yang tidak cukup diwujudkan lewat bahasa. Biar rasa ini selalu ada di hati, dan kamu tahu bahwa aku mau hidup samsara bersamamu.
Katamu, “Aku terjebak dalam perangkap yang kamu buat, sayang.”
Lalu
“Aku bukan gerilyawan yang siap menjebak dan membuatmu terperangkap dalam pasung yang kubuat. Ini tentang perwujudan rasa yang harus menjadi. Dan layaknya titian sungai, akhirnya muara itu ada pada dirimu.”
Gombal
Tertawa mungkin bisa melepas sejenak penat dalam sekap. Aku tahu, bahwa tertawa “bahagia” seperti ini jarang bisa kita lakukan, sayang. Hahaha...biar saja kita nikmati dulu barang sejenak ke-“bahagia”-an ini.
...
...
Kecupan lembutmu mengingatkan aku untuk kembali membumi. Ya, kembali pada kenyataan yang sebelumnya aku terlalu mengawang-awang dalam lamunan. Namun, adanya dirimu dalam dekapan membuat aku tahu bahwa ini hidup yang ada saat ini. Ini nyata, bukan dunia rekaan semata. Ini belawan, bukan sekaan yang menguap sebentar hilang. Sudahlah, aku terlalu melankoli dan sendu. “Mari kita bersama”, Kataku sembari mengajaknya hidup nyata.
Akhirnya;
“Mari kita lewati hidup yang penuh samsara ini. Biarkan sejenak yang lalu ada sebagai bagian dari alur hidup yang adakalanya dihinggapi digresi. Namun, kita percaya bahwa sekarang saat ini yang ada adalah dua rasa yang beradu—dalam sebuah traktat.”


Pagi di bulan Maret 2014

Senin, 15 Juli 2013

Adam Nahari Sastraguna

Anak adalah anugrah terbesar untuk saya dan istri saat ini. Adam Nahari Sastraguna, yang secara etimologis dapat diartikan; Adam sebagai lelaki, Nahari (bahasa Arab) berarti Pengorbanan, Sastra (dari bahasa urdu Shastra) berarti baik, Guna yang dimaknai sebagai berguna. Adam Nahari Sastraguna, saya maknai sebagai lelaki baik dan berguna yang siap berkorban untuk agama, orang tua, dan bangsa. Amin.
Kelak, ketika dewasa nanti harapan kami semua makna yang tertera pada namanya akan menjadi nyata. amin.










Selasa, 18 Juni 2013

Geletar Rindu

Sepenggal rindu menyelinap dalam hening pagi
yang belum sempat aku tawarkan pada tegukan kopi pertama
kala embum masih menepi
lalu hanya tercipta sembulan asap dari aroma yang ada

Sepenggal rindu teramat menyayak dalam kelu hati
yang belum sempat terobati dalam duka
akan kenangan semalam yang belum beranjak pergi
lalu hanya kamu yang bisa membuat aku ragu

Sepenggal rindu yang ada hanya nuansa akan rupa
Sepenggal rindu yang ada hanya kamu yang ingin ku raba
Sepenggal rindu padamu, hanya sekilas segumpal selaksa hendak bermuara.
dan inilah sepenggal rindu yang hanya bisa kurawikan dalam kata

Cikembar, Juni 2013

Jumat, 08 Maret 2013

Sebatas Cerita

Sambil terus kupandangi pembatas buku itu...
“Kamu tentu tidak tahu betapa besar fungi pembatas buku itu?”
Pertanyaan tentang arti sekedar pembatas buku itu muncul, lalu entah mengapa selalu saja begitu mudah terlupa kembali ketika ada tanya lain mulai meminta jawab. Begitu selalu nuansa ada ketika aku mulai mengingat kembali tentang ragu yang menyelinap dalam sedikit tanya. Padahal saat ini aku sedang memegang pembatas buku ini, yang katamu:
“Ini dariku sebuah arti kecil yang paling mengerti apa yang ingin kamu batasi...”
Sambil terus kupandangi pembatas buku ini.
Kamu hadir lagi dalam sebatas ingatan yang aku lihat dari pemberian sekecil ini. Lalu, ada nuansa rindu (lagi) ketika sebatas ingin merasuki setiap buai mata terhadap barang yang masih tertingggal dan dapat kugapai. Setelah merasa cukup dengan setiap pesan alamiah melalui sasmita, aku coba merenungkan kembali berartinya dirimu bagiku. Namun, saat ini yang ada tanya. Mengapa hanya sebatas ini?
Sambil terus kupandangi pembatas buku ini.
Bisikanmu membuat aku terperanjat.
“Ssst...biar aku batasi semua lamunanmu.”
Bukan hanya kembali membumi, bisikannya lebih dari sekadar mengingatkan kembali aku jalan pulang ke dunia nyata, setelah sebelumnya terlalu lama mengawang-ngawang dalam ingatan tentang masa lalu. Bau nafasnya, desahannya, dan yang paling menyadarkanku yaitu kecupannya, membuat kembali ada batasan yang jelas antara ingatan dengan kenyataan yang saat ini ada. Aku balas kecupannya sambil berkata:
“Tapi ada yang gak bisa kamu batasi.”
“Apa?”
Aku batasi keingintahuannya dengan sekali lagi memberi kecupan. Padahal dalam pelukannya aku masih memegang pembatas buku ini. Pada malam yang membatasi seperti ini, pelukan menjadi solusi untuk terjaga dari setiap tanya tentang batasan-batasan yang nyata antara setiap kenangan dengan kenyataan yang ada. Padahal:
Aku masih pandangi pembatas buku ini, walaupun saat ini ada dalam pelukan dirinya.

Jumat, 23 November 2012

CERITA PAGI


Di setiap pagi, kamu tahu apa yang paling aku rindu?
kecupanmu yang membuatku terjaga dari lelap.
Di setiap pagi, kamu tahu apa yang paling aku mau?
tawaran hangat darimu sembari memelukku.
"teh manis ya?" katamu.
Di setiap pagi, kamu tahu apa yang selalu aku ingat?
peringatan darimu untuk selalu menutup lemari.
karena, "kebiasaan deh suka gak ditutup lemarinya" katamu.
Setiap hari, kamu tahu apa yang selalu aku jaga?
Hati.
"Jaga hati ya, sayang" katamu.
dan selalu karenamu, aku jadi ingat setiap pagi bersamamu.