Senin, 06 Juli 2009

Lho...


Lagi aku bingung dengan keadaan. Ada dua rasa yang berbeda ketika hendak berpikir, untuk satu yang meragu dan satu yang memikat laku untuk bertindak. Dengan ratap aku hanya berkeluh tanpa penuh deru untuk berseru yang bahwasanya aku gila dengan keadaan yang mendua ini. setelah akal tak memberi solusi pada ruang imajinasi untuk berkreasi dengan kesempitan pola pikir yang beku. Bukan karena kamu, tapi ada dalam diriku yang tak ada kontemplasi jiwa.

Lalu kamu berkata, “Kamu gila. Hilang akal. Sudah nggak waras”.

Apa ukuran bagi seorang dikata gila, sinting, nggak waras?

Orang berkata gila karena tak punya nyali. Ya, nyali untuk menilai dirinya sendiri yang notabene kosong tanpa berkaca pada cerminan dirinya. Lalu dinama letak eksistensi diri? Temukan di cara ada dan mengada. Dimana? Ada dalam bentuk fisikal diri yang berbentuk. Disekitar jasmani yang terangkum dalam bentuk indah jasmani (fisik) sebagai pola terstruktur dari sebuah ciptaan. Letak “mengada” ada dalam ruh. Dalam ruh yang diisi dengan iman, dan kepercayaan akan keberadaan yang Maha Agung di luar skema diri kita. Siapa? Tuhan, tentunya. Yang dengan segenap hati kita percayai, dan bukan untuk ditanyakan keberadaannya.

Sungguh. Aku berani sumpah. Aku bukan gila karena mencari Tuhan. Aku bingung kenapa intelektual tidak dihargai dalam sebuah eksistensi. Itu saja pertanyaanku.

Aku hanya bingung, Ayah, Ibu. Lho….? Kemana Tuhan pergi.

2 komentar:

ngintipkampus mengatakan...

Apa ukuran bagi seorang dikata gila, sinting, nggak waras?

jawab: biasanya ketika org itu berbeda. (dan yg punya patokan seperti ini sama gilanya)

bisa tolong jelaskan maksud pernyataanmu yg ini: "Aku bingung kenapa intelektual tidak dihargai dalam sebuah eksistensi."

'Andalusia'

iDaites mengatakan...

Di negeri ini, bukan kecerdasan yang dinilai sebagai sebuah laku. Tapi kecerdikan yang selalu menunut untuk mawas diri. jadi inget lagu SLANK, yang judulnya NGANGKANG...
Terlalu bodoh banyak yang ngebodohin..
Terlalu pintar banyak yang manfaatin..
Memang seperti itu bukan, kawan?
Dan, hal itu latah terjadi dilingkungan keluargaku. Selamanya anak-anak tetap mereka anggap anak-anak, tanpa boleh menunjukka kecerdasannya, yang menurut Ortu menjadi sebuah kebongkahan terhadap kedudukan mereka sebagai ortu..