Senin, 22 November 2010

...


Ayah, mungkin kau akan tertawa dengan senang ketika membaca tulisan ini. Tentunya kau juga akan merasa menang ketika membaca kegundahan (sakit hati, rasa sesal, kalah) yang aku tulis lagi. Lalu kau akan semakin menganggapku anak "gila", anak yang sakit jiwa..karena aku hanya bisa menuliskan kegundahan daripada membicarakannya dengan lugas dan sederhana.
Aku pun menyesal mengapa aku seperti ini, individu introvet yang sibuk dengan dunianya sendiri. Aku tidak autis ayah, tidak. aku sehat aku normal, hanya saja aku lebih memilih untuk sendiri daripada bersama-sama. karena dengan sendiri pun aku bisa tanpa harus menyimpul dengan yang lain. Aku pun sudah terbiasa dengan jarak yang kau berikan padaku. Walaupun aku tahu kau sayang padaku. Tapi rasanya rasa takkan cukup tanpa aplikasi nyata. Tanpa sentuhan, pelukan, dan percikan yang nyata ada. Rasa sayang tidak cukup dalam angan-angan. Rasa sayang harus ada nyata, Ayah.
Aku ingin menceritakan tentang 'dia'.
Ayah, saat ini aku sakit hati. Aku serasa dikhianati lagi oelh hati, rasa, dan cinta. Aku pernah bertanya padamu; "Apakah arti SETIA yang ada pada namaku?"
lalu kau menjawab (dulu)
"Aku harap kau menjadi manusia yang selalu setia pada agama, bangsa, dan kelak terhadap pasangan hidupmu".
Satu-satu aku mulai melanggar arti 'setia' yang dengan benar kau berikan untukku. Tapi, Ayah. Aku sakit hati lagi oleh cinta. Aku diabaikan lagi dengan keegoisan cinta yang ada. Aku terlalu takut untuk jatuh lagi. Aku terlalu takut untuk memulai lagi perasaan itu. Dulu ketika aku menangis (dihadapanmu) karena aku benar ditinggalkan, kau mencairkan dukaku;
"Akan ada yang menggantinya".
Tapi saat ini aku takut, Ayah. Aku takut untuk kehilangan lagi. Terlalu lama aku bisa memendam rasa yang ada dalam diri. Terlalu lama aku bergelut dengan waktuku saja. Kau tahu saat itu, ya 5 desember , ketika kau bisa melihat aku yang setengah gila karena kehilangan. Kau juga tahu pada saat itu aku kehilangan 'dia' karena Tuhan merengutnya dariku. Kau juga tahu betapa aku harus hidup dengan hampa tanpa benar adanya rasa cinta yang lebih besar yaitu darimu. Aku lelah, Ayah. Aku sekarang jatuh lagi, karena cinta

Apakah kau akan membiarkan aku jadi pengecut lagi? Aku sedih, Ayah.

wanita itu pergi atas nama cinta, atas nama cinta juga satu dua sahabat pergi. lalu, ada apa dengan cinta???

1 komentar:

Ira NanaPu mengatakan...

Demikianlah hidup, c'est la vie...